Mengumpat merupakan hal yang dipandang tabu, namun mengumpat dapat menjadi sebuah instrumen untuk melepaskan emosi yang menjadi tekanan dalam diri individu. Penelitian ini dilakukan untuk memahami mengenai dinamika pelepasan emosi dengan cara mengumpat. Data diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam kepada dua orang laki-laki yang memiliki intensitas mengumpat yang tinggi pada kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan Intepretative Phenomenological Analysis. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa penggunaan kata-kata bermuatan emosi efektif untuk melepaskan emosi yang dirasakan. Mengumpat menjadi sebuah respon terhadap emosi sama seperti tertawa dan menangis. Meskipun demikian, penggunaan kata-kata umpatan membuat pelakunya sering mendapat label negatif di masyarakat.
Copyrights © 2021