Penelitian ini berfokus pada kehidupan Suku Anak Dalam (SAD) atau dikenal juga sebagai Orang Rimba di Provinsi Jambi, tepatnya yang berada di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Orang Rimba yang dahulunya hidup damai dalam kemewahan hutan yang menyediakan segala macam kebutuhan, kini mengalami perubahan dan tekanan dari luar serta terpinggirkan. Tahun 2014/2015 berita kematian pada Orang Rimba secara beruntun menjadi pusat perhatian. Adanya kematian pada Orang Rimba, secara tradisi mereka harus melakukan belangun untuk menghilangkan kedukaan. Pada saat belangun, Orang Rimba dan kelompoknya meninggalkan pemukiman sebelumnya untuk berpindah menuju wilayah lain hingga waktu tertentu atau ketika kesedihan akibat ditinggalkan kerabat sudah hilang. Mereka tidak membawa banyak barang dan makanan. Tidak jarang kondisi ketika belangun sering terjadi kekurangan gizi sehingga banyak yang sakit dan berujung pada kematian karena tidak ditangani. Hutan sebagai sumber penghidupan yang semakin habis juga membuat peta belangun menjadi terbatas. Bahan makanan dari hutan semakin menipis. Kematian yang terjadi pada saat belangun membuat Orang Rimba harus bergerak terus untuk mencari lokasi baru. Direkomendasikan kepada Kementerian Sosial khususnya Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial yang membawahi masalah Komunitas Adat Terpencil (KAT) untuk dapat meningkatkan pelayanan sosial kepada Orang Rimba ketika belangun dimana mereka hidup.
Copyrights © 2017