This paper aims to discuss the politics of strengthening Islamic higher education institutions Era Minister of Religion K.H. A Wahid Hasyim which has never been studied by anyone. So this study becomes important to do. This paper uses "Interest Groups Theory" which has been incorporated in The Politics of Education Association (PEA) as its analytical tool so that it is relevant to the context of the discussion. The researcher uses the qualitative method "Library Research" with an educational political approach with a historical style. In this paper there are two important findings, First, the emergence of programs to strengthen Islamic higher education institutions in Indonesia on the basis of the construction of internal and external factors, namely the existence of praxis "Draw Motives" by using a rational and spiritual approach that is emphasized in the concept and practice. Second, in practice, is that the interaction pattern used by the Ministry of Religion KHA Wahid Hasyim in the process of strengthening Islamic higher education institutions in Indonesia is an interaction pattern of "Accommodative Compromising Associative". Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk membahas tentang politik penguatan institusi pendidikan tinggi Islam Era Menteri Agama K.H.A. Wahid Hasyim yang belum pernah diteliti oleh siapapun. Sehingga kajian ini menjadi penting untuk dilakukan. Tulisan ini menggunakan “Interest Groups Theory” yang sudah tergabung dalam The Politics of Education Association (PEA) sebagai pisau analisisnya sehingga relevan dengan konteks pembahasan. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif “Library Reseach” dengan pendekatan politik pendidikan dengan corak historis. Sedangkan dalam pengumpulan data diperoleh melakukan studi dokumentasi dan wawancara, dan teknik analisa data yang digunakan dengan teknik analisis kualitatif melingkar dengan memerikan, menggolongkan dan menggabungkan. Dalam tulisan ini terdapat dua temuan penting, Pertama, munculnya program penguatan institusi pendidikan tinggi Islam di Indonesia atas dasar konstruksi faktor internal dan eksternalnya adalah adanya praksis “Motif Imbang” dengan menggunakan pendekatan rasional dengan spiritual yang ditegaskan dalam konsep dan praksisnya. Temuan kedua, pada praksisnya, pola interaksi yang digunakan era Menteri Agama K.H. A. Wahid Hasyim dalam proses penguatan institusi pendidikan tinggi Islam di Indonesia adalah pola interaksi “Asosiatif Akomodatif Kompromistis”.
Copyrights © 2019