Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang tidak hanya ada di komunitas tetapi juga di tempat kerja seperti pelayanan kesehatan. Petugas kesehatan di Rumah Sakit memiliki risiko tinggi terpajan droplet yang mengandung Mycobacterium tuberculosis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi positif tuberculin skin test pada petugas kesehatan di Rumah Sakit di Kota Jember. Penelitian ini menggunakan cross-sectional, pada bulan Januari sampai Maret 2020 di dua rumah sakit di kota jember. Masing-masing petugas kesehatan di unit perawatan TB dan unit perawatan non TB dievaluasi menggunakan Tuberculin skin test dengan cut-off ? 10 mm untuk positif tuberculin skin test. Deteksi positif tuberculin skin test terjadi pada 77 (60.2%) petugas kesehatan dari total 128 petugas kesehatan. Faktor risiko jenis kelamin laki-laki (p-value=0.329; OR=1.425; CI=0.6499-2.904), rentang usia (p-value=0.676; OR=0.740; CI=0.176-3.101), BMI (p-value=0.539), riwayat merokok (p-value=0.132; OR=2.059; CI=0.796-5.330), riwayat kontak TB di keluarga (p-value=0.481; OR=1.555; CI=0.452-5.348), riwayat bekerja di unit TB (p-value=0.692; OR=1.154; CI=0.568-2.344) tidak memiliki hubungan bermakna dengan reaksi tuberculin skin test positif. Reaksi tuberculin skin test positif dengan prevalensi yang tinggi terjadi pada petugas kesehatan yang berisiko meningkatkan risiko terjadinya TB aktif pada petugas kesehatan di Rumah Sakit di Jember. Dibutuhkan suatu program untuk mencegah terjadinya TB pada petugas kesehatan. Kata kunci: Tuberculin skin test; petugas kesehatan; faktor risiko
Copyrights © 2020