Seiring berkembangnya zaman seiring berkembang pula gaya hidup bebas yang biasa dikenal pergaulan bebas. Fenomena ini biasa dikaitkan dengan bebasnya kehidupan remaja dan dewasa muda dalam berhubungan dengan lawan jenis. Banyak dari mereka berhubungan di luar batas kewajaran, hingga tak jarang mereka terjerumus ke seks bebas yang menyebabkan kehamilan pra nikah, bahkan penyebaran penyakit kelamin seperti HIV/AIDS. Diperlukan adanya pendidikan seks yang ditanamkan pada anak agar anak mempunyai pengetahuan dan mampu mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan. Pesan pendidikan seks turut dapat disalurkan melalui film, salah satunya yaitu film Dua Garis Biru. Film Dua Garis Biru awalnya menuai kontroversi karena dianggap mendukung seks bebas, padahal penulis film ingin menampilkan pesan pendidikan seks didalam film tersebut. Karena fenomena ini peneliti tertarik untuk meneliti lebih dalam terkait bagaimana pemaknaan penonton dewasa muda terhadap pesan pendidikan seks dalam film Dua Garis Biru. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigm konstruktivistik dan strategi fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam kepada penonton film Dua Garis Biru (usia dewasa muda). Hasil penelitian ini adalah bahwa benar terdapat pesan pendidikan seks dalam film ini yaitu dapat dilihat dari sisi biologis, psikologis, sosial budaya, etika, moral, dan hukum. Kemudian, dari sisi teori Resepsi secara keseluruhan dua informan dinilai berada di posisi dominan (walaupun juga terdapat posisi negosiasi) karena informan cenderung banyak menyetujui pesan yang ditampilkan.
Copyrights © 2020