Pemberitaan kekerasan seksual pada perempuan dalam Koran Merapi menempatkan posisi laki-laki menjadi subjek sedangkan perempuan menjadi objek, sehingga membentuk posisi yang timpang antara laki-laki dan perempuan. Posisi dominan laki-laki ini yang membuat pemberitaan masih terasa bias gender. Bordieu melihat fenomena ini sebagai kekerasan simbolik, kekerasan yang halus, tak kasat mata. Penelititan ini berupaya untuk melihat bagaiamana wacana kekerasan simbolik dalam pemberitaan kekerasan seksual pada perempuan di Koran Merapi. Untuk mengetahuinya penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis yang membedah jalinan teks, kognisi, dan sosial pada Koran Merapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana kekerasan simbolik yang terdapat pada pemberitaan Koran Merapi meliputi, objektivikasi seksual pada perempuan, perempuan sebagai penyebab kekerasan seksual, perempuan harus mematuhi kehendak laki-laki, melestarikan mitos “suci†pada perempuan, dan ketidak seriusan dalam memandang esensi kekerasan seksual.
Copyrights © 2020