Ambon menjadi panggung kekerasan yang paling mengejutkan yang pernah terlihat di Indonesia sejak pembantaian antikomunis 1965/1966. Perang agama telah menjadikan Ambon sebagai kota yang dikotak-kotakkan baik secara fisik maupun mental. Masyarakat Ambon bersifat plural terdiri dari berbagai kelompok sosial seperti komunitas-komunitas anak negeri Maluku, anak dagangatau pendatang dari luar Maluku dan agama yang berbedabeda. Peladan gandongmerupakan lembaga adat anak negeriMaluku untuk membangun integrasi sosial mereka. Ketika konflik Ambon berlangsung dengan massif diupayakan perdamaian melalui adat peladan gandong. Temuan dari studi ini menunjukkan bahwa, peladan gandonghanya efektif berlaku bagi sesama anak negeri Maluku yang terikat perjanjian dalam adat pela dan gandong. Masyarakat Ambon yang plural memerlukan plural sosial capital sehingga terbentuk relasi-relasi sosial antar kelompok yang beragam untuk membangun kehidupan sosial yang harmonis. Sumber utama data dalam artikel ini, catatan penelitian lapangan tahun 2012, studi literatur dan dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif.
Copyrights © 2020