Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana konstruksi sosial petani Bojonegoro terkait langka-langkah yang dilakukan dalam menghadapi banjir tahunan Bengawan Solo. Hasil dari konstruksi sosial tersebut, membuat mereka memiliki sikap mendua dalam menyelematkan hasil kerja antara lahan pertanian dan hewan ternak mereka. Terhadap hewan ternak, mereka akan berusaha bertahan menyelamatkan hewan ternaknya dengan sekuat tenaga agar terhindar dari musibah banjir yang melanda. Namun terhadap lahan pertanian, mereka tetap bertahan menanam padi atau tanaman lainnya menjelang musim hujan dan akan nrimo (menerima atau pasrah) ketika lahan pertanian mereka terrendam banjir. Padahal mereka sudah mengetahui bila musim hujan tiba, daerah mereka akan terkena banjir akibat luapan air sungai Bengawan Solo, yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa. Hal ini merupakan kejadian rutin setiap tahun dan sudah terjadi selama puluhan tahun. Disamping itu, para petani di kabupaten tersebut tidak mengasuransikan hewan ternak dan lahan pertanian mereka sebagai perlindungan, meskipun pemerintah telah menyediakan sarana asuransi tersebut. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif. Teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling dengan kriteria tertentu, sesuai dengan fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi sosial petani dalam menghadapi banjir akibat luapan Bengawan Solo, adalah dengan budaya nrimo atau pasrah terhadap keadaan banjir yang melanda.
Copyrights © 2021