Latar belakang Hipertensi masih menjadi tantangan besar diIndonesia saat ini. Menurut data Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Hipertensi termasuk dalam 10 besar penyakit terbanyak diwilayah kota samarinda dengan angka kejadian 2420 kasus hipertensi. Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas, hipertensi merupakan salah satu jenis penyakit terbanyak yang diderita pasien. Hipertensi akan mengakibatkan tingkat kecemasan yang tidak terkontrol dan mengakibatkan kurangnya tidur yang baik pada seseorang yang mengalami penyakit hipertensi. Tujuan Menganalisa arah korelasi tingkat kecemasan dengan kualitas tidur pada penderita hipertensi. Metodologi Jenis penelitian menggunakan Korelasional dengan pendekatan Cross Sectional Teknik sampling Nonprobability Sampling, jumlah sampel 35 responden penderita hipertensi dengan menggunakan kriteria insklusi, klien yang memiliki penyakit hipertensi, klien yang berusia 40-79 tahun, kondisi hemodinamik stabil tidak dalam keadaan rawat inap, tidak menderita keganasan, tidak mengalami Riwayat penyakit jantung,stroke, disfungsi baik sistolik dan diastolik. instrumen tingkat kecemasan Zung Self-Rating Anxienty Sclas (ZSRAS), Kualitas tidur Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), menggunakan uji Somer. Hasil hasil penelitian didapatkan kecemasan berat 22 (62,9%) sedangkan kualitas tidur didapatkan baik 21 (60,0%), buruk 14 (40,0%). Hasil Uji Somer di peroleh nilai p value = 0,006 korelasi dari penelitian ini r = 0,359. Kesimpulan Terdapat korelasi arah positif dengan kekuatan korelasi lemah sehinga dapat disimpulakn terdapat korelasi antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur pada penderita hipertensi DiPuskesmas Air Putih Samarinda. PENDAHULUAN Hipertensi sering mengakibatkan keadaan yang berbahaya sehingga tidak disadari oleh sebagian orang dan juga sering tidak menimbulkan keluhan. Hipertensi merupakan penyakit yang dapat menyerang siapa saja, baik muda maupun tua. Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri. Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stoke, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal[1]. Data pada tahun 2018, ada 63.309.620 orang penderita hipertensi. Faktor yang terjadi penderita hipertensi dapat mengakibatkan adanya kecemasan yang dapat mengganggu kualitas tidur seseorang sehingga mengakibatkan adanya gangguan psikologis yang terjadi[2]. Tidur adalah suatu keadaan dimana terjadi perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi seseorang individu terhadap suatu lingkungan menurun, aktivitas fisik yang minimal, tingkat kesadaran yang sangat bervariasi, dan perubahan fisiologis tubuh. Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar seseorang individu yang harus dipenuhi maupun dilakukan karna dapat membuat perasaan menjadi tenang secara mental maupun fisik, serta dapat meningkatkan kemampuan dan konsentrasi saat ingin melakukan aktivitas sehari-haril[3]. Kualitas tidur merupakan suatu kepuasan tidur bagi seseorang individu, sehinggan seseoran individu tidak memperhatikan perasaan yang lelah, mudah terangsang dan gelisah, lesu, apatis, kehitaman disekitar mata, kelopak mata mengalami kebengkakan, konjungtiva merah, mata perih, sakit kepala, serta sering menguap dan mengantuk[4]. Berdasarkan hasil studi pendahuluan pada bulan Februari 2020. Hasil wawancara saat study pendahuluan pada bulan Februari didapatkan bahwa 4 orang penderita hipertensi, 2 orang mengatakan bahwa saat tekanan darah tinggi menyebabkan terjadinya kecemasan yang ditandai dengan rasa takut, tegang, gelisah, kawatir yang membuat kualitas tidurnya terganggu atau tidak normal. Dan 2 orang lainnya mengatakan hanya merasakan kecemasan yang biasa yang kadang- kadang timbul hilang. Maka peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian yang berjudul dengan “Korelasi Tingkat Kecemasan Dan Kualitas Tidur Penderita Hipertensi Di Puskesmas Air Putih Samarinda”. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode penelitian Correlation yang menggunakan consecutive sampling. Populasi pada penelitain ini adalah pasien hipertensi. dengan jumlah responden sebanyak 31 dengan kriteria yang ditentukan diantaranya penderita hipertensi, Usia dari 40-79 tahun, Kondisi hemodinamik stabil tidak dalam keadaan rawat inap. HASIL Penelitian ini menganalisis arah korelasi tingkat kecemasan dengan kualitas tidur pada pasien hipertensi di puskesmas air putih samarinda. Penelitian ini terdapat dua variabel yaitu tingkat kecemasan sebagai variabel independen dengan kualitas tidur sebagai variabel dependen. Tabel 1: Distribusi Data Demografi Berdasarkan Jenis Kelamin, Usia, Pekerjaan, dan kontrol obat Pasien hipertensi di puskesmas air putih samarinda Tahun 2020 (n = 35). Katagori Jumlah Persentase Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 16 19 45,7% 54,3% Usia Dewasa Pralansia Manula 13 18 4 37,1% 51,4% 11,4% Kontrol Obat Pernah Tidak 27 8 77,1% 22,9% Pejerjaan Ibu rumah tangga Swasta Wiraswasta Pns 13 13 6 3 37,1% 37,1% 17,1% 8,6% Tabel 2: Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Dengan Kualitas Tidur Pada Penderita Hipertensi Di Puskesmas Air Putih Samarinda Variabel Frekuensi % Tingkat Kecemasan Tidak ada kecemasan Kecemasa ringan Kecemasan sedang Keceemasan berat Total 0 1 12 22 35 0,00% 2,9% 34,3% 62,9% 100,0% Kualitas Tidur Baik Buruk Total 21 14 35 60,0% 40,0% 100,0% Tabel 3: Korelasi Tingkat Kecemasan Dengan Kualitas Tidur Pada Penderita Hipertensi Di Puskesmas Air Putih Samarinda Tingkat kecemasan Kualitas Hidup Total Baik Buruk N % N % N % Tidak ada Ringan Sedang Buruk 0 1 4 4 0,0 2,9 11,4 11,4 0 0 8 18 0,0 0,0 30,8 69,2 0 1 12 22 0,0 2,9 34,3 62,9 Total 9 100,0 26 100,0 35 100,0 R P value Arah hubungan 0,359 0,006 Positif PEMBAHASAN Data Demografi Penderita hipertensi berobat di bagian poli umum dan poli lansia. Puskesmas Air Putih Samarinda berada dijalan Pangeran Suryanata Komplek Batu Putih RT.33 No.41 Kelurahan Air Putih dan Bukit Pinang Kecamatan Samarinda Ulu Provinsi Kalimantan Timur. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan google from karena sulitnya dalam melakukan penelitian secara langsung di akibatkan karena pandemi sekarang yang terjadi pengambilan sampel delakukan dengan cara ke puskesmas lalu keruang poli lansia dan poli umum, setelah itu pihak puskesmas menyarankan keruang BPJS untuk mengambil data pasien hipertensi data diambil satu bulan terakhir, puskesmas dalam tiga bulan terakhir sangat sepi karena kurangnya pasien hipertensi untuk mengejek kesehatannya selama masa pandemic yang terjadi saat ini. Peneliti hanya mendapatkan 35 responden yang bersedia dalam mengikuti atau berpartisipasi dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti, peneliti setelah itu membuat grup whatsap lalu memasukkan responden kedalam grup dan menjelaskan maksud dan tujuan yang dilakukan lalu meminta persetujuan dari setiap responden yang akan mengisi link kuisioner yang dibuat. Tingkat Kecemasan Data hasil penelitian ini yang dilakukan terhadap 35 responden menunjukkan sebagian dari 22 (629%) responden mengalami kecemasan berat dan sebagian kecil dari 1 (2,9%) mengalami kecemasan ringan. Karakteristik faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah jenis kelamin,usia,pekerjaan. Nilai tertinggi dari jenis kelamin yaitu perempuan sebanyak 19 (54,3%) responden dengan usia lansia sebanyak 18 (51,4%) responden dan pekerjaan terbanyak yang mengalami kecemasan yaitu pada ibu rumah tangga dengan 13 (37,1%). orang yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dari pada orang yang berjenis kelamin laki-laki terutama pada penderita hipertensi pada lansia. Sebelum memasuki masa menopause, perempuan mulai kehilangan hormone estrogen sedikit demi sedikit dan pada masa itu hormone estrogen harus mengalami perubahan sesuai dengan umur perempuan yang dinilai dari umur 45-65 tahun[5]. Besar responden bekerja sebagai IRT Perempuan yang tidak bekerja atau hanya sebagai ibu rumah tangga beresiko lebih tinggi menderita hipertensi dibandingkan dengan perempuan yang bekerja. Kemungkinan disebabkan oleh kurangnya aktifitas yang dilakukan IRT[6]. Masalah terbesar yang mempengaruhi nilai tingkat kecemasan berat atau tinggi adalah respon gelisah atau gugup dan cemas dari biasanya mencapai (78%), lalu respon mudah marah, tersinggu atau panik mencapai (69%), dan respon sulit untuk tidur dan tidak dapat istirahat di malam mencapai (74%). Dampak dari kegelisahan, kegugupan dan kecemasan mengakibatkan kesulitan untuk tidur dan mengakibatkan terjadinya kesulitan untuk istrihat di malam hari. Sehingga mempuan merubahan fisikologis yang membuat mental seseorang merasa terganggu dengan mengakibatkan mudah marah atau tersinggu bahkan bisa membuat perasaan menjadi panik. Kualitas Tidur kualitas tidur buruk pada responden dengan usia 50-79 tahun, jenis kelamin perempuan dengan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Jenis kelamin perempuan dengan usia lansia lebih mudah mengalami gangguan kualitas tidur yang buruk dikarenakan tidur yang kurang dapat merujuk kepada kondisi kualitas tidur yang buruk. Kurangnya waktu tidur dapat mengakibatkan terjadinya hipertensi pada seseorang. Pekerjaan ibu rumah tangga mempengaruhi kualitas tidur yang buruk karena padatnya pekerjaan rumah yang dilakukan sehingga tidak adanya kesempatan untuk beristirahat sehingga pekerjaan ibu rumah tangga terbilang padat sehingga memicunya terjadinya gangguan kualitas tidur[7]. Data hasil penelitian menunjukan masalah terbesar yang mempengaruhi nilai kualitas tidur yaitu tinggi atau buruk adalah berapa lama anda biasanya baru bias tertidur tiap malam dengan nilai capaian (69%), terbangun di tengah malam terlalu dini dengan capaian nilai (71%), seberapa sering anda mengantuk ketika melakukan aktivitas di siang hari dengan pencapaian nilai (74%). kualitas tidur responden dipengaruhi oleh kualitas tidur yang buruk sehingga dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan fisiologis dan psikologis[8]. Korelasi Tingkat Kecemasan Dengan Kualitas Tidur Pada Penderita Hipertensi Hasil penelitian dari nilai tingkat kecemasan didapatkan nilai kategori baik (13 responden), dan nilai kualitas tidur baik di dapatkan dengan nilai (22 reaponden). Nilai tingkat kecemasan yang berat sebanyak (9 responden) dan nilai kualitas tidur yang buruk sebanyak (26 responden). Data hasil penelitian menujukan tingkat kecemasan yang baik yaitu efek fisik yang menunjukkan bahwa tangan merasa dingin dan sering basah oleh keringat angka 31%, rasa kenyamanan yang merasa perasaan sering mengalami mimpi-mimpi buruk angka 37%, dan kualitas tidur yang baik yaitu mimpi buruk dimana angka 10%, mempengaruhi kualitas tidur yang baik dimana didapatkan data alasan lain didapatkan angka 21%, tidak mampu bernafas dengan leluasa didapatkan angka 23%. Hasil penelitian dari nilai tingkat kecemasan didapatkan nilai kategori buruk (8 responden), dan nilai kualitas tidur buruk di dapatkan dengan nilai (26 reaponden). Data hasil penelitian menujukan tingkat kecemasan yang berat atau buruk yaitu sering pingsan atau merasa seperti pingsan dengan angka 93%, sulit tidur dan tidak dapat istirahat malam dengan angka 80%, merasa sakit perut dan gangguan pencernaan dengan angka 73%. dan bagaimana kualitas tidur selama sebulan yang lalu dengan angka 55% mempegaruhi kualitas tidur yang buruk dimana didapatkan data seberapa besar antusias dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan angka 68%. KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukan korelasi antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur pada penderita hipertensi Di Puskesmas Air Putih Samarinda, didapatkan dari 35 responden terdapat mayoritas responden mengalami kualitas tidur yang buruk adalah pasien dengan kecemasan yang berat sedangkan tidak ada satupun dengan kecemasan ringan mempunyai kualitas tidur yang buruk, ada banyak faktor lain yang mempengeruhi kualitas tidur seseorang. Penelitian ini didapatkan nilai p value = 0,006 yang menunjukan nilai yang bermakna dan nilai korelasi dari penelitian ini r = 0,359, artinya kekuatan korelasi yang didapapatkan adalah kekuatan lemah, dapat disimpulkan terdapat korelasi antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur pada penderita hipertensi Di Puskesmas Air Putih Samarinda.
Copyrights © 2020