Gempa bumi telah mengguncang wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat pada tanggal 29 Juli 2018 dan kembali terjadi tepatnya tanggal 5 Agustus dan 19 Agustus 2018. Akibat yang timbul oleh peristiwa ini diantaranya kerusakan infrastuktur pada bangunan, luka-luka hingga memakan korban jiwa. Salah satu dampak terparah berada di Kecamatan Sambelia. Pada penelitian ini dilakukan pemetaan tutupan lahan Kecamatan Sambelia pada tahun 2017, 2018, dan 2019. Analisis dilakukan berupa perbandingan ketiga peta agar diketahui perubahan tutupan lahan. Data yang digunakan adalah citra satelit Landsat 8 dan dilakukan klasifikasi supervised dengan metode Maximum Likelihood Classification. Tutupan lahan yang diidentifikasi pada studi ini adalah badan air, lahan pertanian dan perkebunan, lahan terbangun, lahan terbuka, hutan bakau, semak belukar, dan vegetasi tinggi. Hasil perubahan yang terdeteksi pada tahun 2017 sampai 2018 menunjukkan lahan vegetasi tinggi mengalami penurunan luas lahan yang masif. Selain lahan vegetasi tinggi, penurunan luas lahan juga terjadi pada lahan terbangun, hutan bakau, badan air, dan semak belukar sedangkan lahan terbuka sebaliknya. Pada tahun berikutnya, luas badan air dan lahan terbangun berbalik meningkat yang diikuti oleh lahan pertanian dan perkebunan. Berbeda dengan luas vegetasi tinggi, semak belukar, dan hutan bakau yang menurun secara konstan tiap tahunnya. Secara garis besar, uji akurasi terhadap peta tutupan lahan tahun 2017, 2018, dan 2019 menghasilkan overall accuracy masing-masing 97,14%, 92,50%, dan 91,42% serta Kappa Coefficient yakni 96,66%, 91,42%, dan 90%. Perubahan tutupan lahan terutama pada bangunan dan lahan terbuka diperkirakan sebagai akibat dari gempa bumi.
Copyrights © 2021