Jurnal Hortikultura
Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019

Perbaikan Kelayakan Usahatani Bawang Merah pada Dataran Tinggi di Bali Melalui Perbaikan Teknologi Budidaya (Improving Feasibility of Shallot Farming at High Land in Bali Through the Improvement of Cultivation Technology)

Nyoman Ngurah Arya (Assessment Institute for Agriculture Technology of Bali)
I Ketut Mahaputra (Assessment Institute for Agriculture Technology of Bali)
I Made Budiartana (Assessment Institute for Agriculture Technology of Bali)



Article Info

Publish Date
20 Jun 2020

Abstract

Usahatani bawang merah telah menjadi sumber penghidupan utama bagi sebagian petani di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Namun, biaya usahatani yang dibutuhkan semakin meningkat dan dapat berdampak terhadap penurunan efisiensinya. Pengkajian ini bertujuan menganalisis kelayakan paket teknologi usahatani bawang merah. Pengkajian terdiri atas tiga perlakuan dan 15 ulangan, yakni: p0 = teknologi eksisting (jarak tanam 23 cm x 23 cm + 12,5 – 15 ton pupuk kandang ayam/ha + 330 kg Urea/ha + 300 kg ZA/ha + 360 kg NPK 16:16:16/ha + pestisida kimia); p1 = jarak tanam 20 cm x 15 cm + 5 ton kompos kotoran sapi/ha + 500 kg ZA/ha + 600 kg NPK 16:16:16/ha + feromon exi + pestisida kimia; dan p2 = jarak tanam 23 cm x 23 cm+ 5 ton kompos kotoran sapi/ha + 500 kg ZA/ha + 600 kg NPK 16:16:16/ha + feromon exi + pestisida kimia. Lahan yang digunakan seluas 1,35 ha melibatkan 15 orang petani. Luas setiap perlakuan adalah 300 m2 sehingga luas lahan yang digunakan pada masing-masing petani adalah 900 m2. Penanaman dilakukan pada April 2106. Kelayakan usahatani dianalisis dengan pendekatan R/C rasio. Hasil analisis menunjukkan bahwa paket teknologi p2 memiliki kelayakan lebih baik daripada teknologi eksisting.KeywordsKelayakan; Feromon exi; Jarak tanam; Kompos sapiAbstractShallot farming has become the main source of income for some farmers in Kintamani District, Bangli Regency. However, the facts that shallot production costs tend to be more expensive over the year may have negative impacts to farm efficiency and farmers’ income. This study was aimed to analyze the feasibility of shallot farming technology packages alternative. The study consisted of 15 replications and three treatments, namely: p0 = existing technology (spacing 23cm x 23cm + 12.5 – 15 tons chicken manure/ha + 330 kg Urea/ha + 300 kg ZA/ha + 360 kg NPK 16:16:16/ha + chemical pesticides); p1 = spacing of 20cm x 15cm + 5 tons cow compost/ha + 500 kg ZA/ha + 600 kg NPK 16:16:16/ha + sex pheromone + chemical pesticides; and p2 = spacing of 23 cm x 23 cm + 5 tons cow compost/ha + 500 kg ZA/ha + 600 kg NPK 16:16:16/ha + sex pheromone + chemical pesticides. Land used is 1.35 ha involving 15 farmers. The area of each treatment is 300 m2, so the area of land used in each farmer is 900 m2. Planting was done in April 2106. The feasibility of shallot farming was analyzed by R/C ratio. The result of analysis showed that, technology package on p2 has a better feasibility than existing technology.

Copyrights © 2019






Journal Info

Abbrev

JHORT

Publisher

Subject

Agriculture, Biological Sciences & Forestry

Description

Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, ...