Membaca Simone de Beauvoir Membaca Simone de Beauvoir adalah membaca sebuah dongeng kutukan yang melekat pada sebuah tubuh tempat rahim bersemanyam yang menyebabkan namanya berakhiran vocal i, Dewi, Lakmi, atau Putri. Membaca Simone de Beauvoir adalah membaca sebuah takdir yang diciptakan sejarah tentang oposisi biner kelas dan kasta, kiri dan kanan, emosi dan logika, inferior dan superior yang melekat pada payudara dan dada. Membaca Simone de Beauvoir adalah membaca sebuah perlawanan yang tetap terbelenggu dalam penjara asmara Sang Sartre hingga eksistensimu terbaca samar. Membaca Simone de Beauvoir adalah membaca sebuah mimpi yang terlambat karena betahun lalu telah ada Ratu Shima dan Ratu Kalinyamat yang tak lagi tinggal di kelas dua yang membuatmu selalu gelisah dan inferior tak berkesudahan. Wiyatmi, Yogyakarta, 20 Desember 2019Puisi tersebut adalah salah satu puisi yang saya tulis ketika sedang mengerjakan penelitian Hibah Penelitian Dasar Dikti tahun lalu yang berjudul “Konstruksi Gender Perempuan Super dalam Folkore Indonesia dan Transformasinya dalam Sastra Indonesia Mutakhir.” Dari penelitian ini, saya menemukan sejumlah tokoh perempuan dalam folklore dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar waktu berpuluh abad lampau yang telah menduduki tahta kerajaan atau pun kepala suku, dan panglima perang melawan kolonialisme asing. Saya mememukan lagi (karena sebelumnya pernah mendengar namanya, tetapi tidak begitu paham eksistensinya) adanya seorang gadis dari abad XVI, Renta Kencana, putri Sultan Trenggana, Sultan Demak salah satu kesultanan Islam di Jawa, yang diangkat sebagai seorang raja di Kerajaan Kalinyamat (sekarang wilayah Jepara). Selain itu, di pedalaman Kalimantan juga ada seorang perempuan bernama Asung Luwan yang diangkat sebagai Kepala Suku Dayak Kayan. Di Pulau Kupang, Kalimantan Tengah juga ada seorang perempuan, Nyai Undang yang menjadi raja dari sejak sebelum menikah. Selain mereka bertiga, masih bias ditemukan sejumlah raja dan pemimpin perempuan di beberapa kerajaan dan daerah di Nusantara (Indonesia), seperti pernah dikaji oleh salah seorang arkeolog di UI, Titi Sari Nastiti (2009).Setelah menemukan sejumlah hasil penelitian tersebut, saya pun menyimpulkan bahwa ternyata nenek moyang kita sudah lama memraktikkan kesetaraan gender atau yang sering dikenal dengan istilah feminisme, jauh sebelum konsep dn gerakan feminisme lahir di Eropa dan Amerika. Salah satu tokohnya adalah Simone de Baeboir di Perancis. Sebelum feminisme sebagai gerakan, cara pandang, dan ideologi kesetaraan gender lahir dan digaungkan di Eropa dan Amerika, kita sudah melaksanakan feminisme, yang dapat disebut feminisme nusantara. Selain artikel ilmiah yang dikirimkan ke jurnal internasional, dan menunggu publish, saya dan tim peneliti menulis temuan tersebut dalam buku berjudul Para Raja dan Pahlawan Perempuan, serta Bidadari dalam Folkolre Indonesia (Wiyatmi, Sari, Liliani, 2020).Pertanyaan selanjutnya, kalau dalam sastra rakyat, sastra lama hasil kreasi nenek moyang sudah kental isu feminisme, bagaimana dengan sastra Indonesia modern? Penelitian lanjutan yang kami kerjakan tahun ini akan mengungkap hal tersebut. Sudah ada beberpa temuan yang bias dicatat.
Copyrights © 2020