Asketisme dipandang sebagai hal yang menyebabkan seseorang bersikap individual dan anti sosial. Pelaku asketis saat ini cenderung mementingkan hubungannya dengan Tuhan (hablun min al-Allah) dari pada hubungan dengan manusia (hablun min al-nas). Tulisan ini akan mengungkap bagaimana asketisme di dalam Al-Qur’an berkembang dari teosentris menjadi antroposentris. Asketisme antroposentris menekankan peran diri terhadap lingkungan sosial untuk mencapai kesalehan dan kemaslahatan. Dengan pendekatan Tafsir Maqashidi, penulis mencoba mengungkapkan berbagai maqashid lain yang bernilai maslahat dari asketisme antroposentris. Asketisme antroposentris memiliki nilai-nilai fundamental, antara lain: al-‘Adalah, al-Wasathiyyah, al-Insaniyyah, al-Mas’uliyyah, dan al-Hurriyah. Selain itu, perilaku asketisme antroposentris mengandung aspek-aspek maqashid seperti Hifz al-Mal, Hifdz al-Din, Hifz al-Daulah, dan Hifz al-Bi’ah. Hal ini mengindikasikan bahwa asketisme antroposentris lebih bersifat kontekstual seiring berkembangnya zaman.
Copyrights © 2021