Peranan stimulan sangat besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman karet. Stimulan cair dapat meningkatkan produksi lateks kurang dari 50%, sedangkan stimulan gas mampu meningkatkan produksi hingga lebih dari 100%. Meskipun demikian, hal tersebut belum sepenuhnya berpengaruh terhadap minat adopsi teknologi stimulan gas etilen. Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya minat adopsi teknologi stimulan gas etilen adalah harga jual karet yang rendah dan harga teknologi yang mahal. Agar penerapan teknologi ini dapat menghasilkan keuntungan, maka nilai dari peningkatan produktivitas yang dicapai harus mampu menutup segala biaya yang telah dikeluarkan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan kajian mengenai produktivitas minimal yang harus diperoleh agar mampu menutup segala biaya yang ditimbulkan dan peluang aplikasi teknologi stimulan gas pada kondisi harga karet yang fluktuatif. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis Break Even Point dilanjutkan dengan melakukan analisis sensitivitas untuk mengetahui peningkatan produktivitas yang harus diperoleh apabila terjadi gejolak ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas yang harus dicapai agar berada pada posisi BEP saat harga karet rendah (US$ 1,1/kg) adalah sebesar 181,4 gr/pohon/sadap, sedangkan saat harga naik menjadi US$ 2,0/kg, produktivitas yang harus dicapai hanya sekitar 59,3 gr/pohon/sadap. Syarat volume produksi untuk mencapai BEP dari hasil penelitian ini secara faktual mampu dicapai oleh perkebunan karet pada kondisi harga dan biaya tertentu.
Copyrights © 2020