Tulisan yang disajikan ini merupakan hasil penelitian lapangan yang bertujuan selain untuk mengungkapkan prosesi pelaksanaan Akdangang sebagai suatu upacara ritual kematian pada komunitas adat Kajang di Kabupaten Bulukumba, juga untuk mengkaji nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriktif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, pengamatan dan kajian pustaka. Hasil pembahasan menunjukkan, bahwa pelaksanaan upacara kematian ini memilki tahap kegiatan yang cukup panjang, dimulai dari prosesi penguburan hingga hari keseratus (puncak ritual). Dalam setiap kelipatan sepuluh harinya, dipertunjukkan pula acara yang dinamakan akbasing-basing, yaitu suatu acara yang dimainkan oleh dua orang laki-laki sebagai pakbasing-basing dan dua orang perempuan sebagai pelantun syair. Acara ini biasanya mulai dimainkan pada sekitar pukul 20.00 malam hingga dini hari. Syair-syair yang dilagukan pun, semuanya bernada sendu sesuai yang menceritakan alam “sana”. Bahkan kadang-kadang si pelantun syair mengalami kesurupan akibat masuknya roh si mati. Dengan ucapan yang hanya bisa diterjemahkan oleh kammikkale atau tupparuru (orang yang menguasai mantera dan doa), dapatlah diketahui keadaan si mati di alam “sana”, apakah menempati bola tepu (surga) atau bola campali (neraka).
Copyrights © 2021