Peningkatan produksi jagung dapat dilakukan melalui sistem tanam yang berbeda dengan pemberian berbagai genotipe jagung hibrida yang mampu menekan tingkat kerusakan akibat serangan hama. Tujuan penelitian untuk mendapatkan respon sistem tanam terbaik pada berbagai genotipe jagung hibrida. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi, sebagai petak utama yaitu sistem tanam dengan 3 taraf (monokultur jagung, tumpangsari jagung+kedelai, tumpangsari jagung+ubi) dan anak petak yaitu genotipe hibrida dengan 22 taraf (DR 4 x MDR 7.2.3, DR 4 x MDR 16.6.14, DR 5 x MDR 18.8.1, DR 6 x DR 7, DR 7 x DR 8, DR 8 x MDR 18.8.1, DR 8 x DR 9, DR 8 x MDR 1.1.3, DR 10 x MDR 9.1.3, DR 11 x DR 16, DR 14 x DR 18, DR 19 x DR 20, MDR 3.1.4 x MDR 18.5.1, MDR 3.1.2 x MDR 153.14.1, MDR 7.4.3 x DR 18, MDR 7.4.3 x MDR 18.8.1, MDR 7.4.3 x MDR 1.1.3, MDR 9.1.3 x MDR 1.1.3, MDR 18.8.1 x MDR 7.1.9, MDR 153.3.2 x MDR 8.5.3, BR 154 x MDR 18.8.1, BR 154 x MDR 153.3.2) dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian terdapat pengaruh interaksi antara berbagai sistem tanam dengan berbagai genotipe jagung hibrida terhadap semua parameter yang diamati. Perlakuan s1g9, s1g22 mampu menekan intensitas serangan hama lalat bibit, perlakuan s1g9, s1g13, s1g20, s2g3, s2g4, s2g17 mampu menekan intensitas serangan hama ulat grayak, perlakuan s1g3, s1g4, s1g9, s1g17, s2g9, s2g20, s2g22 mampu menekan intensitas serangan hama penggerek batang jagung, perlakuan s1g9 mampu menekan intensitas serangan hama penggerek tongkol jagung.
Copyrights © 2021