Fibrilasi atrium dikarakteristikkan dengan adanya disorganisasi aktivitas elektrik atrium dan kontraksi atrium yang inefektif yang menimbulkan kondisi stasis dan memudahkan terbentuknya trombus. Trombus ini sewaktu-waktu dapat lepas ke peredaran darah dan menyebabkan stroke trombo-emboli. Untuk mencegah terbentuknya trombus, antikoagulan oral seperti warfarin telah menjadi terapi standar, namun rentang terapi yang sempit dan perlunya pemeriksaan laboratorium memicu dicarinya antikoagulan oral baru, seperti dabigatran, rivaroxaban, dan apixaban. Namun, penggunaan jangka panjang antikoagulan oral ini tetap memiliki risiko terutama bagi orang-orang dengan risiko tinggi perdarahan. Masalah ini memerlukan pendekatan non-farmakologis pada penderita fibrilasi atrium, yakni penutupan apendiks atrium kiri. Beberapa studi menunjukkan efektivitas metode ini untuk mencegah stroke iskemik pada pasien fibrilasi atrium. Evaluasi menggunakan skor CHADS2 dan HAS-BLED diperlukan untuk menentukan indikasi yang tepat. Penutupan apendiks atrium kiri merupakan metode yang menjanjikan untuk mencegah stroke, khususnya pada pasien dengan risiko tinggi perdarahan.
Copyrights © 2016