World Health Organization (WHO) telah menyatakan bahwa COVID-19  sebagai masalah kesehatan dunia. Pada Februari 2020, sebanyak total 81.109 kasus terkonfirmasi. SARS-CoV-2 semakin menjadi tantangan bagi tenaga medis dikarenakan oleh presentasi klinis yang bervariasi, salah satunya adalah silent atau happy hypoxemia. Pasien mengalami hipoksemia berat tanpa dyspnea. Dewasa ini, happy hipoxemia merupakan salah satu gejala COVID-19 yang baru-baru ini diketahui. Studi literatur ini bertujuan untuk mempelajari kepentingan “happy hypoxemia†pada COVID-19. COVID-19 dapat menyebabkan hipoksemia disebut sebagai “silent†atau “happy hypoxemiaâ€, yang merupakan gejala yang tidak khas. Pasien yang mengalami happy hypoxemia dapat jatuh ke dalam hipoksemia berat tanpa disertai dyspnea dan dengan compliance paru yang mendekati normal, serta tidak ada tatalaksana khusus. Beberapa hipotesis terjadinya happy hypoxemia; barrier alur oksigen alveoli, microthrombi intravascular, rute neural ataupun gangguan dari mekanisme hypoxic pulmonary vasoconstriction. Hal ini dapat menyebabkan gangguan perfusi organ, karena tanpa adanya gejala dyspnea dapat mengakibatkan kondisi iskemik terus berlanjut menjadi kritis tanpa disertai suatu peringatan awal. Sehingga sangat penting monitoring rutin dari saturasi oksigen dan suplementasi oksigen sesuai indikasi pada pasien COVID-19.
Copyrights © 2021