Berbeda dari Alquran yang bersifat qathâi al-wurud, Hadis bersifat dzanny. Bagaimanapun shahih dan orisinal, yakni betul-betul diucapkan Nabi, suatu Hadis tetap zhanny, karena masih mengandung diskursus mengenai perawi baik dari segi sanad maupun matan. Dalam hal ini, kritik terhadap keduanya mesti dilakukan untuk menyaring Hadis. Terkait dengan sanad, salah satu cabang ilmu yang berfungsi untuk menyelidiki perawi adalah ilmu al-jarh wa al-taâdil. Ilmu tersebut yang dielaborasi penulis dalam artikel ini. Penulis berargumen, ilmu al-jarh wa al-taâdil merupakan upaya menghindari dari keraguan terhadap Hadis, termasuk memilah Hadis yang shahih dan palsu.
Copyrights © 2010