Jurnal Veteriner
Vol 22 No 4 (2021)

Resistansi Antibiotik Bakteri dari Ulas Kloaka Burung Puyuh Sehat

Maria Anggita (Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Widya Asmara (Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Tri Untari (Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Michael Haryadi Wibowo (Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Sidna Artanto (Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Okti Herawati (Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Agnesia Endang Tri Hastuti Wahyuni (Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)



Article Info

Publish Date
31 Dec 2021

Abstract

Anti Mikrob Resistan (AMR) menjadi masalah utama baik pada manusia, hewan, dan lingkungan. Pada umumnya pemberian antibiotik dilakukan oleh peternak unggas di Indonesia melalui pakan sebagai antibiotik pemacu pertumbuhan/Antibiotic Growth Promoters (AGP). Penggunaan antibiotik yang berlebihan di industri peternakan dianggap berkontribusi terhadap meningkatnya resistansi obat pada manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian resistansi bakteri dari ulas/swab kloaka burung puyuh sehat. Sebanyak sepuluh ekor puyuh sehat dari peternakan puyuh di daerah Kalasan, Klaten, Yogyakarta diswab kloaka dan dikultur pada media cair Brain Heart Infusion (BHI). Biakan ditanam pada media Mueller Hinton Agar (MHA) dan diletakkan Sembilan jenis cakram/disk antibiotik: streptomisin, doksisiklin, fosfomisin, kloramfenikol, kolistin, siprofloksasin, ampisilin, eritromisin, dan penisilin. Setelah inkubasi pada suhu 37°C selama 18-24 jam, zona hambat yang terbentuk kemudian diukur dan ditentukan sifat resistansi dibandingkan dengan standar. Hasil menunjukkan sebanyak 20%kultur bakteri resistan terhadap streptomisin, 40% resistan terhadap doksisiklin, 40% resistan terhadap kloramfenikol, 50% resistan terhadap kolistin, 20% resistan terhadap siprofloksasin, 20% resistan terhadap ampisilin, 90% resistan terhadap eritromisin, 50% resistan terhadap penisilin, dan tidak ada resistansi terhadap fosfomisin. Terdapat satu dari sepuluh puyuh (P10) yang memiliki resistansi terhadap tujuh dari sembilan jenis antibiotik (78%) yang diujikan, dan dua dari sepuluh puyuh (P2 dan P4) memiliki resistansi terhadap dua dari sembilan antibiotik (11%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri dari swab kloaka pada burung puyuh sehat umur 21 hari dari satu peternakan yang sama memiliki tingkat resistansi yang berbeda-beda. Sifat resistansi terhadap antibiotik dari masing-masing puyuh juga berbeda-beda.

Copyrights © 2021






Journal Info

Abbrev

jvet

Publisher

Subject

Veterinary

Description

Jurnal Veteriner memuat naskah ilmiah dalam bidang kedokteran hewan. Naskah dapat berupa: hasil penelitian, artikel ulas balik (review), dan laporan kasus. Naskah harus asli (belum pernah dipublikasikan) dan ditulis menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah ilmiah yang telah ...