Penelitian ini berupa mengungkap nilai kerja bersama dalam toleransi yang terwujud dalam ungkapan, tuturan, atau ekspresi lisan (oral), tindak/gerak atau perilaku simbolik ekspresi folkloristik tradisi bethek-sinoman. Penelitian yang bertempat di Desa Tengger wilayah, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model/desain etnografi. Model ini mampu mengkaji peristiwa kultural, yang menyajikan pandangan hidup subjek sebagai objek studi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa bethek-sinoman memiliki andil kuat bagi tegaknya pilar-plar tradisi. Jiwa kegotong-royongan bertumbuh subur karena terpupuk oleh tradisi, sebaliknya tradisi yang terus-menerus bertumbuh telah memberikan ruang eksistensi bagi semangat gotong royong, baik dalam wujud membantu dalam hajatan personal atau bahu-membahu dalam hajatan upacara desa. Selain gotong royong, nilai-nilai anjangsana juga mengakar dalam tradisi ini. Lebih jauh, anjangsana mampu memelihara spirit toleransi dalam masyarakat Tengger yang semakin majemuk. Beberapa jati diri masyarakat Tengger yang terepresentasikan dalam tradisi bethek-sinoman adalah sungkan, tepat janji, dan totalitas. Ketiga sikap itu menandakan bahwa masyarakat Tengger saling menghargai antar sesama tanpa membeda-bedakan penduduk asli atau bukan, agama asli atau bukan. Ketika tradisi bantu-membantu secara sukarela ini mengakar dalam kehidupan sosio-kultural, jati diri wong Tengger semakin menemukan area eksistensi. Bethek-sinoman menjadi roh sekaligus nafas yang menghidupkan tradisi.Kata Kunci: bethek-sinoman, anjangsana, gotong-royong, jati diri masyarakat Tengger
Copyrights © 2021