Artikel ini menganalisis peran olahraga sebagai alat diplomasi dalam konflik di semenanjung Korea pada tahun 2018, yaitu mengurangi intensitas ketegangan perang dingin antara kedua negara. Tujuan artikel ini adalah untuk menggambarkan dan menganalisis efektivitas olahraga atau Olimpiade yang terkait dengan Komite Olahraga Internasional, sebagai alat pemersatu dalam mendorong peluang penyatuan kembali di semenanjung Korea. Di sisi lain, Korea Selatan melalui presiden Moon Jae In mengundang dan mendesak pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un untuk berpartisipasi dan bersatu dalam Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mengumpulkan data melalui studi pustaka dan triangulasi. Data dikumpulkan, dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif-analisis. Analisis penelitian ini menggunakan teori diplomasi publik atau diplomasi olahraga untuk menganalisis tingkat efektivitas olahraga dalam menyelesaikan konflik di semenanjung Korea. Karena kondisi semenanjung Korea saat ini belum sepenuhnya mengarah pada cita-cita penyatuan kembali kedua negara, maka teori diplomasi publik dapat menentukan faktor-faktor yang mendukung berkurangnya intensitas perang dingin di semenanjung Korea. Salah satu faktor adalah peran olahraga sebagai alat diplomasi publik yang telah mendorong peluang dalam penyelesaian konflik untuk mencapai kesepakatan damai antara kedua pihak dan mengarah pada penyatuan kembali.Kata kunci: Olahraga, Diplomasi Publik, Diplomasi Olahraga, Korea Selatan, Korea Utara
Copyrights © 2020