Bioetanol dapat dijadikan pengganti bahan bakar bensin dan terbuat dari berbagai jenis tanaman dan limbah yang mengandung selulosa. Salah satu limbah yang masih belum termanfaatkan secara maksimal adalah sabut kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh variasi konsentrasi H2SO4 (5; 7; 10; 13 dan 15%) terhadap kadar lignin yang didegradasi pada proses delignifikasi serta pengaruh variasi enzim (2,5; 5; 7,5 dan 10 mL) yang digunakan terhadap kadar bioetanol yang dihasilkan pada proses Simultanous Saccarification and Fermentation (SSF). Analisa kadar lignin dan selulosa pada proses delignifikasi menggunakan metode Chesson-Datta. Kadar selulosa optimal didapatkan sebesar 54,25% serta kadar lignin sisa sebanyak 18,78% yang dihasilkan oleh sampel dengan melibatkan 13% H2SO4 pada proses delignifikasi. Pada proses SSF melibatkan variasi enzim selulase dan Saccharomyces cerevisiae serta proses fermentasi dilakukan selama 7 hari. Analisa kadar bioetanol hasil dari proses SSF menggunakan metode densitas. Dari hasil penelitian didapatkan kadar bioetanol maksimum yang dihasilkan sebesar 42,63% pada sampel dengan perlakuan 10 mL enzim selulosa.
Copyrights © 2022