Artikel ini membahas masalah perbedaan pemahaman tentang sakramen baptisan antara Coolen dengan Indische Kerk di Surabaya pada pertengahan abad ke-19. Diskusi ini menggunakan metode histografi. Hasilnya menunjukkan bahwa Coolen tidak mengajarkan sakramen baptisan kepada jemaahnya yang bersifat ngelmu Kristen karena dia menganggap konsep baptisan yang dipraktikkan oleh para misionaris pada masa itu, berkonotasi budaya Barat terkait dengan proses asimilasi. Ketegangan ini menimbulkan campur tangan penguasa. Mereka mengambil alih pelayanan Coolen dan dihisapkan ke dalam Gereja Indische Kerk. Tindakan ini jelas sekali sebagai perlakuan yang tidak adil terhadap Coolen. Pelayanannya yang dirintis secara mandiri terpaksa dilepaskan untuk dikuasai oleh para misionaris.
Copyrights © 2022