Abstract In fishing communities located in the former transit point (Daseng), the value of mutual cooperation (gotong royong) is closely related to their fishing tools. They can be considered as communal cultural products that reflects users’ cooperation, solidarity and attitudes. Nevertheless, the use of fishing tool individually leads to individualism. Consequently, this influences their social life; making the increase of individualism and the decrease of their solidarity and mutual cooperation. Along with the changes of the use of fishing tool, from individuality to communality, the value of gotong rotong is introduced. However, this value is only internalized in their division of labor. Whereas in their daily life, they establish a new social institution to facilitate their gotong royong activities. In this condition, the introduction of cooperation that requires a strong social cohesion can be premature because this social institution tend to be manipulated as an instrument by local elites to exploit the society. In this context, new social institutions based on social conditions are needed and the orientation towards the local needs should be the starting point for the institutional development. Keywords: fishing gear, mutual cooperation (gotong royong), social institution. Abstrak Dalam lingkungan masyarakat nelayan yang berada di bekas tempat persinggahan (Daseng), nilai gotong royong terkait erat dengan alat tangkap yang digunakan. Alat tangkap merupakan produk budaya dari komunitas yang merefleksikan pola kerja sama, solidaritas, serta sikap hidup dari penggunanya. Penggunaan alat tangkap yang bersifat individual menyebabkan sikap individualisme penduduk relatif tinggi, sehingga berimbas pada kehidupan sosial mereka, termasuk solidaritas dan sikap gotong royong yang cenderung rendah. Seiring dengan perubahan alat tangkap yang digunakan, dari individual ke komunal, nilai gotong royong mulai diperkenalkan. Namun, hal itu hanya terinternalisasi dalam pembagian kerja di antara mereka. Dalam kehidupan sosial, mereka membentuk pranata sosial baru guna mewadahi kegiatan gotong royong di antara warga masyarakat. Di tengah kondisi sosial seperti itu, pengenalan koperasi yang mensyaratkan kohesi sosial yang kuat bisa jadi terlalu prematur karena keberadaan pranata sosial tersebut cenderung dijadikan instrumen oleh elit lokal untuk mengekploitasi mereka. Dengan kondisi seperti ini, tampaknya diperlukan format pranata sosial baru yang sesuai dengan kondisi sosial yang ada. Dalam konteks ini, orientasi terhadap kebutuhan masyarakat setempat harus menjadi titik awal pembangunan kelembagaan di lingkungan mereka. Kata kunci: alat tangkap, gotong royong, pranata sosial.
Copyrights © 2016