Jurnal Masyarakat dan Budaya
Vol. 18 No. 2 (2016)

KEBEBASAN INDIVIDU MANUSIA ABAD DUA PULUH: FILSAFAT EKSISTENSIALISME SARTRE

Sihol Farida Tambunan (Pusat Penelitan Kemasyarakatan dan Kebudayaan (P2KK) LIPI)



Article Info

Publish Date
28 Feb 2017

Abstract

Existentialism was a label for many philosophical thoughts developed in the World War I and II. It becomes a break-through against the traditional ways of thinking, namely essentialism considering empirism and rationalism and the ontology of rationalistic being as the only ways of thinking. The traditional thinkers has agreed to dismish any possibility to change the answer to the question of being. The existentialist thinker made a revolt against that traditional philosopher of essentialism which had developed since the era of Plato and Aristoteles as a deterministic philosophy. Jean-Paul Sartre, well-known French philosopher was one of existentialist thinker who discusses human as an existential subject. According to him, existentialism was also a philosophy of being, but he resists rationalizing it. In his thought, existentialism is the personal experience of human as a subject. He calls ‘etre-en soi’ for human conciousness object and etre pour-soi for human consciousness. The purpose of human existensialist, according to him, is to be etre-ensoi-etre pour soi’ or the fully consciousness in the self. Subjectivism of human being was becoming the focus of thinking creating a new scientific mainstream called psychology. Keywords: Existentialism, Anti-deterministic, World War, Psichology and Subjectifism, Being And Nothingnes ( L’Etre et Neant.) Eksistensialisme merupakan sebuah label yang diberikan terhadap banyak pemikiran filsafat yang berkembang pada Perang Dunia I dan II. Aliran ini mendobrak aliran pemikiran tradisional sebelumnya yaitu Esensialisme yang hanya menganggap empirisme dan rasionalisme serta ontologi rasional tentang ‘ada’ sebagai hakikat pemikiran. Pemikir-pemikir tradisional telah menyepakati untuk menghilangkan setiap kemungkinan yang mengubah pertanyaan tentang ‘ada’. Pemikir-pemikir Eksistensialis melakukan revolusi terhadap para Filsuf Esensialis yang telah berkembang selama berabad-abad sejak zaman Plato dan Aristoteles sebagai suatu bentuk filsafat yang deterministik. Jean-Paul Sartre, filsuf Perancis yang terkenal adalah salah satu pemikir Eksistensialis yang membicarakan manusia sebagai subjek yang eksistensial. Menurutnya, Eksistensialisme juga merupakan filsafat tentang ‘ada’, tetapi dia menolak untuk membakukannya menjadi satu-satunya hakikat pemikiran. Ia menganggap bahwa Eksistensialisme merupakan pengalaman personal manusia sebagai subjek. Dia menyebut ‘etre-en soi’ terhadap objek kesadaran manusia dan ‘etre-pour soi’ terhadap kesadaran manusia itu sendiri. Tujuan kesadaran manusia menurut Sartre adalah menjadi ‘etre-en soi- etre-pour soi’ atau ‘kesadaran yang penuh pada dirinya.’ Subjektivitas manusia menjadi fokus pemikiran yang melahirkan aliran ilmu pengetahuan terbaru yaitu Psikologi. Kata kunci: Eksistensialisme, Anti Deterministik, Perang Dunia, Psikologi, Subjektivisme, Ada dan tiada (L’Etre et le Neant).

Copyrights © 2016






Journal Info

Abbrev

Publisher

Subject

Description

Jurnal Masyarakat dan Budaya (JMB) or Journal of Society and Culture is a peer-reviewed journal that aims to be an authoritative academic source on the study of society and culture. We publish original research papers, review articles, case studies, and book reviews focusing on Indonesian society, ...