Abstrak -- Sebagai negara berbentuk kepulauan, permasalahan yang mendasar dalam upaya pemerataan hasil pembangunan adalah ketersediaan sarana akses penghubung. Kendala ini menyebabkan beberapa daerah yang sulit diakses mengalami ketrtinggalan dari daerah lain. Kendala akses ini umumnya dialami oleh daerah terpencil, daerah perbatasan dan daerah kepulauan. Dampak yang ditimbulkan akibat permasalahan akses tersebut antara lain daerah menjadi tertinggal, masyarakat sulit bersaing dengan para pendatang. Bagi daerah yang berada di perbatasan juga rentan provokasi dari luar, dengan isu pemerintah tidak memberikan perhatian, sementara negara tetangga lebih menjanjikan. Hal ini berdampak pada lunturnya rasa nasionalisme. Agar daerah tertinggal perbatasan dan kepulauan (DTPK) tersebut tetap kondusif, maka kebutuhan dasar mereka selain pangan dan sandang harus terpenuhi, yaitu dengan layanan pendidikan dan kesehatan. Kementerian kesehatan memandang pentingnya pemerataan dan penguatan pelayanan kesehatan dasar di daerah (DTPK) dengan meluncurkan Program Nusantara Sehat (PNS). Program ini telah berjalan sejak tajun 2015. Untuk menilai apakah program ini telah terencana dan terlaksana dengan baik, maka untuk itulah dilakukan penelitian evaluasi ini. PNS bukan semata pemenuhan pelayanan kesehatan dasar, namun meruoakan suatu pendekatan kesejahteraan dalam kontribusi menjaga stabilitas kemanan suatu wilayah. Jika masyarakat sejahtera, kondusivitas akan lebih terjaga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi CIPP, dengan mengevaluasi latar belakang yang mendasari program ini (context), input yang mempengaruhi keberhasilan program, pelaksanaan dan hasil program juga dievaluasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Program Nusantara Sehat telah terlaksana dengan baik. Namun demikian, beberapa hal menjadi perhatian agar program ini lebih optimal kedepan.Kata Kunci: Nusantara Sehat, Pendekatan Kesejahteraan, Daerah Tertinggal, Pemerataan Layanan Kesehatan Abstract -- A fundamental problem as an archipelago state is about connecting island to islands, especially outer island and boundary region. This situation creates serious problem for them to develop equally with other region. Underdeveloped region usually are border area and outer islands. People in that region lack of service from government, even a basic service, education and health for example. They fell government isnot paying attention to themand on the other hand, they respond by disobeying the government, and they are more sensitive obout anything. This situation will affect to the security condition on that region and around. They are more easily affected from outers. The worst acces, they start a disintegration movement. So, to keep the situation in good condition, not only military approach applied, but also prosperity approach. One of that prosperity approach is basic health service for every one. Indonesiaon ministery of health, launch a program to enhance basic health service on remote areas. This program called Nusantara Sehat or Healthy Archipelago. To comfirm that this program are running well, an comprehensive evaluation should be done, that’s the goal of this research evaluation. The evaluation will be done in comprehensively, therefore using CIPP evaluation model, to evaluate context, input, process, and product of this program. The conclution at the end of research evaluation, this program is running well, but some point need some attention to make this programmore optimal in the future. Some recommendation are send to the government and stake holder for their input to improve this programKeywords: Healthy Archipelago, Prosperity Approach, Underdeveloped Region, Health Services
Copyrights © 2017