Pengintegrasian negara bagian Republik Indonesia Serikat ke Republik Indonesia termasuk Negara Indonesia Timur memicu gerakan kemerdekaan oleh Dr. Ch Soumokil dengan memproklamasikan Republik Maluku Selatan (RMS) 1950. Meskipun telah berhasil dikalahkan tahun 1966 namun stigma mengenai RMS masih melekat dan diasosiasikan dengan budaya Maluku. Stigma yang masih melekat ini kemudian menguat pada saat hadirnya kembali isu RMS sewaktu terjadinya konflik kemanusiaan 1999. Salah satu factor yang menjadi pemicu bangkit kembali gerakan ini adalah ketidakpuasan terhadap negara selama Soeharto berkuasa 32 tahun. Batalnya beberapa proyek pembangunan nasional hingga protes masyarakat yang dituduh bagian dari Gerakan RMS menjadi tantangan demokrasi di Maluku. Demokratisasi di masa reformasi telah memberikan ruang bagi masyarakat yang tadinya terbungkam untuk mengekspresikan ketidakpuasan mereka melalui aksi-aksi melawan pemerintah. Kemunculan RMS menguji seberapa jauh kualitas demokrasi masyarakat terhadap pembangunan manusia di Maluku.
Copyrights © 2022