Kegagalan fungsi liver yang akut banyak disebabkan oleh penyalahgunaan parasetamol atau Acetaminophren. Parasetamol dosis tinggi menyebabkan nekrosis liver dan kegagalan fungsi liver. Pada liver, parasetamol diubah menjadi N-acetyl-para-benzo-quinine imine (NAPQI), yang meningkatkan stress oksidatif dan disfungsi mitokondria. Disfungsi liver ditandai dengan peningkatan enzim SGOT dan SGPT serta rasio keduanya. Penggunaan rimpang Curcuma zedoaria dipercaya dapat memberikan proteksi terhadap liver. Kandungan antioksidan fenolik di dalamnya memiliki kemampuan menangkal radikal hidroksil, sehingga diharapkan dapat memulihkan stres oksidatif, melindungi terhadap paparan parasetamol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak rimpang Curcuma zedoaria setelah dan sebelum pemberian parasetamol dosis yang tinggi, melalui kadar enzim SGOT dan SGPT, serta rasio keduanya. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus jantan dewasa (Rattus norvegicus) yang dibagi menjadi 4 kelompok yaitu KN; KP yang diberikan parasetamol dosis tinggi 1,35 g/ Kg BB; kelompok perlakuan yang diberi ekstrak Curcuma zedoaria dosis 105mg/ 200 g BB pada 2 jam sesudah (P1) dan sebelum pemberian parasetamol (P2). Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis dan ANOVA dengan nilai p sebesar 0,019 dan 0,027. Penurunan kadar SGOT dan SGPT terendah pada kelompok P2 yaitu 156,06 IU dan 151,90 IU. Rasio SGOT/SGPT tertinggi pada KP sebesar 2,21 IU/L.
Copyrights © 2022