The infiltration of global cultural, the development of information technology, differences and diversity of beliefs, professions, political affiliations, and class make the Andong very open, plural and has a high potential for conflict in religious and social life. This research is a case study using an ethnographic interpretive approach. The results showed that the religious practice and local wisdom of the Javanese people in Andong Boyolali can fortify people's lives from global influences so as to create harmony. There are values in religious practice and local wisdom that are quite basic, namely humans must be sincere in all aspects of life, wasilah Imam Syadzili: “Siro podo nyambut gawe kanggo wasilah kanggo ngadang rezekine Gusti Allah miturut kabisane” (You are working as a message to block the fortune of Allah SWT as much as possible) And also Mbah Idris's moral message: “Jembarno atimu, ciutno prasangkamu, gedekno pangapuromu, cilekno piwalesanmu, entengno ikhlasmu” (Expand your heart, narrow your prejudices, increase your forgiving nature, reduce your grudges, lighten your sincerity). [Masuknya budaya global, perkembangan teknologi informasi, perbedaan dan keberagaman keyakinan, profesi, afiliasi politik dan juga golongan menjadikan wilayah Andong sangat terbuka, plural dan memiliki potensi konflik yang cukup tinggi dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Penelitian ini adalah studi kasus dengan menggunakan pendekatan interpretative etnografik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik beragama dan kearifan lokal masyarakat Jawa di Andong Boyolali dapat membentengi kehidupan masyarakat dari pengaruh global tersebut sehingga dapat menciptakan keharmonisan. Terdapat nilai dalam praktek beragama dan kearifan lokal yang cukup mendasar yaitu manusia harus ikhlas dalam segala aspek kehidupan, wasilah Imam Syadzili : “Siro podo nyambut gawe kanggo wasilah kanggo ngadang rezekine Gusti Allah miturut kabisane”(Kamu pada bekerja sebagai pesan untuk menghadang rejeki Allah SWT semampunya) Dan juga pesan moral Mbah Idris: “Jembarno atimu, ciutno prasangkamu, gedekno pangapuromu, cilekno piwalesanmu, entengno ikhlasmu” (Lebarkan hatimu, sempitkan prasangkamu, besarkan sifat pemaafmu, kecilkan dendammu, ringankan ikhlasmu).]
Copyrights © 2022