Berdasarkan Perkim.id, pada tahun 2017 Semarang menempati salah satu angka backlog tertinggi di Jawa Tengah, yaitu dengan angka backlog kepemilikan sebesar 163.643 unit dan angka backlog penghunian mencapai 94.962 unit. Jumlah keluarga yang tinggal di rumah tidak layak huni mencapai 5296 kepala keluarga. Sedangkan untuk luas permukiman kumuh di kota Semarang mencapai 120.91 hA. Selain permasalahan backlog/kurangnya hunian, terdapat pula masalah kurangnya lahan untuk hunian tersebut. Oleh karena itu, pembangunan hunian tidak hanya diwujudkan secara horizontal, namun juga diwujudkan secara vertikal, salah satunya dalam bentuk rumah susun. Atas dasar tingginya minat masyarakat terhadap rumah susun, tetapi rumah susun yang tersedia masih kurang jumlahnya, dan bersamaan dengan angka backlog yang cukup tinggi, rumah susun menjadi solusi untuk menyediakan hunian yang layak untuk masyarakat berpenghasilan rendah atau umum.Pembangunan rumah susun juga dapat menjadi alternatif untuk menangani keterbatasan lahan khususnya di Kota Semarang. Dalam berbagai kasus desain bangunan publik rumah susun, masih banyak yang belum memenuhi konsep ramah difabel dan lansia. Jumlah lansia dan penyandang disabilitas yang cukup tinggi di Semarang, menjadi acuan desain rumah susun berkonsep Universal Design, sehingga semua orang baik itu orang normal maupun orang berkebutuhan khusus dapat menghuni dan menggunakan fasilitas rumah susun dengan nyaman.
Copyrights © 2022