Masa balita merupakan masa yang krusial bagi pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga dibutuhkan kualitas asupan makanan yang beragam. Gangguan perekenomian keluarga selama pandemi COVID-19 pada keluarga yang tinggal diperkotaan dapat mengganggu kualitas asupan makanan balita. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara status sosial ekonomi rumah tangga dan pengetahuan ibu tentang gizi terhadap keanekaragaman konsumsi pangan balita saat pandemi di perkotaan. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dan menggunakan desain cross sectional study. Menggunakan teknik simple random sampling, penelitian ini melibatkan 58 orang ibu dan balita yang mengurus oleh ibunya sendiri dan bermukim di Pondok Kopi, Jakarta. Data yang dikumpulkan antara lain pendidikan ibu dan ayah, pendapatan sebulan rumah tangga, skor pengetahuan ibu tentang gizi, dan Dietary Diversity Score (DDS). Analisis statistik antara lain independent sample t-test, one way ANOVA dan chi-square. Hasil penelitian menggambarkan bahwa meskipun ibu memiliki pengetahuan gizi yang tinggi (60,3%). Mayoritas keluarga saat pandemi berpenghasilan rendah (53,4%), dan hanya setengah dari balita memiliki DDS yang beragam (50,0%). Selaras dengan pendapatan keluarga yang tinggi, ibu memiliki tingkat Pendidikan yang tinggi serta rata-rata pengetahuan gizi tinggi (p-value<0.05). Tingkat pendidikan terakhir ibu D3/S1 (7,25 ± 0,312) juga memiliki skor DDS yang lebih tinggi dibandingkan dengan SD-SMP (6,06 ± 0,220) atau SMA/SMK (6,06 ± 0,394). Pendapatan keluarga sebulan yang tinggi memiliki rata-rata skor DDS yang tinggi pula (p-value < 0,05). Kesimpulannya, pendapatan sebulan keluarga dan pendidikan ibu terbukti signifikan mempengaruhi kualitas konsumsi pangan balita, sedangkan pengetahuan gizi ibu tidak.
Copyrights © 2022