Perempuan cenderung diposisikan sebagai inferior. Namun, posisi tersebut tidak selalu ajeg dalam operasionalisasinya. Inferioritas perempuan dapat menjadi strategi utuk menunjukkan hal yang sebaliknya, yakni upaya mencapai legitimasi posisinya yang setara dengan laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hal tersebut dalam cepen Dua Kelamin bagi Midin karya Arswendo Atmowiloto. Metode dan teori yang digunakan dalam peneltian ini melalui pemaparan deskriptif analitis dan teori postmemori. Temuan yang diperoleh menujukkan bahwa inferioritas perempuan yang ditampilkan di dalam cerpen, adalah strategi untuk memposisikan kedudukannya yang setara dengan laki-laki. Keberhasilan strategi tersebut tidak lepas dari pelembagaan kondisi-kondisi traumatik yang ditransmisikan oleh tokoh perempuan kepada tokoh laki-laki yang bernama Karto Midin.Kata-kata kunci: inferioritas, strategi, dan postmemori.
Copyrights © 2022