Kajian ini membuktikan bahwa metodologi penafsiran yang meliputi, sumber penafsiran berupa relasi antar teks-akal-realitas itu bersifat struktural dan deduktif, jumlah mufassir bersifat individual dan penyajian penafsiran berbentuk linier-atomistik (tartîb mushafî) serta menggunakan pendekatan tekstualis-literalis (tafsir klasik) dan kontekstualis-literalis (tafsir kontemporer), dari keempat hal tersebut belum bisa diperoleh weltanschauung khalîfah. Sebaliknya kajian ini juga membuktikan bahwa dengan rekonstruksi metodologi meliputi: sumber penafsiran relasi antar teks-akal-realitas yang berbentuk fungsional dan dialektik, jumlah mufassir yang bersifat kolektif (tafsîr jama‘i) dan penyajian penafsiran berbentuk tematik (maudhu‘i) dengan menggunakan pendekatan penafsiran kontekstualis-interdisipliner, maka dapat di-create produk tafsir khalîfah bersifat weltanschauung.
Copyrights © 2022