Sakit kepala adalah salah satu keluhan yang sering setelah cedera otak traumatik (COT) dan disebut sebagai “post-traumatic headache” sakit kepala pascatrauma. Berkisar 30–90% pasien mengalami sakit kepala setelah cedera. Sakit kepala setelah COT dapat berlangsung lama, datang dan hilang dalam waktu satu tahun, menyulitkan melakukan aktivitas sehari-hari, sulit berfikir dan mengingat sesuatu. Setelah cedera kepala berat, pasien mungkin mengalami sakit kepala akibat dari operasi pada tulang kepalanya atau masih adanya kumpulan kecil darah atau cairan di ruang intrakranial. Sakit kepala bisa setelah cedera kepala ringan, sedang dan berat. Sakit kepala ini dapat disebabkan berbagai kondisi antara lain perubahan dalam otak akibat cedera, cedera leher dan tulang kepala yang belum pulih seluruhnya, tegangan dan stres, atau efek samping pengobatan. Ada beberapa tipe sakit kepala antara lain sakit kepala tipe migraine, tension, cervicogenic, dan rebound. Terapi dapat dilakukan dengan merubah pola hidup misalnya harus cukup tidur, olah raga, hindari kopi, hindari makanan tertentu yang memicu sakit kepala seperti anggur (red wine), monosodium glutamat, keju dan terapi obat-obatan misalnya asetaminophen, gabapentin, antidepresant. Akan tetapi, lebih utama adalah pencegahan dengan cara menghindari cedera otak primer, dan apabila terjadi cedera otak primer sebaiknya menghindari dan mengobati cedera otak sekunder dengan pengelolaan perioperatif yang tepat.
Copyrights © 2020