Agitasi pasca-anestesi merupakan masalah yang muncul pada pasien yang dilakukan anestesi umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kejadian agitasi pasca-anestesi pada pasien bedah rawat jalan yang dilakukan anestesi umum dengan menggunakan desfluran atau sevofluran. Penelitian uji acak terkontrol buta tunggal dilakukan pada 94 pasien bedah rawat jalan (ASA) I di Rumah Sakit Umum Daerah kota Tasikmalaya periode Januari–Maret 2012. Subjek dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok I desfluran dan kelompok II sevofluran. Kedua kelompok diinduksi dengan propofol 2 mg/kgBB, fentanil 2 μg/kgBB, atrakurium 0,1 mg/ kgBB, kemudian dilakukan pemasangan laryngeal mask airway (LMA). Penilaian agistasi pasien sejak LMA dilepaskan obat-obat anestesi telah dihentikan, pada menit ke-5, 10, 15, 20, 25, 30, dst setiap lima menit sampai 120 menit setelahnya menggunakan skala agitasi-sedasi riker. Analisis statistik menggunakan uji chi-kuadrat dan Uji Mann-Whitney. Hasil perbandingan kejadian agitasi di ruang pemulihan antara kelompok desfluran dengan kelompok sevovluran secara statistik tidak bermakna. Didapatkan 7 pasien mengalami agitasi pascaanestesi dari 47 sampel kelompok desfluran (14,9%), sedangkan 5 pasien mengalami agitasi ari 47 sampel kelompok sevofluran (10,6%). Satu pasien dari kelompok desfluran dinilai skala agitasinya 6 (sangat agitasi). Simpulan kejadian agitasi pada kelompok desfluran dengan sevofluran secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna.
Copyrights © 2020