Fentanil merupakan analgetik opioid yang hampir selalu digunakan sebagai co-induksi di ruang operasi. Namun penggunaan fentanil intravena bisa menimbulkan batuk yang dikenal juga sebagai fentanyl-induced cough (FIC). Batuk merupakan hal yang tidak diinginkan saat induksi karena bisa menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial, tekanan intraokular dan tekanan intraabdominal. Kejadian FIC salah satunya dihubungkan dengan kecepatan penyuntikan fentanil. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan antara kecepatan penyuntikan fentanil 5 detik dan 20 detik terhadap angka kejadian dan derajat FIC pada pasien ras Melayu yang menjalani anestesia umum di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda terhadap 124 pasien ras Melayu yang menjalani operasi dengan anestesia umum di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok (kelompok kecepatan 5 detik dan kecepatan 20 detik). Pasien secara acak diberikan fentanil 2 mcg/kgBB sebagai co-induksi dengan kecepatan penyuntikan 5 detik atau 20 detik. Insiden dan derajat FIC dicatat pada masing-masing kelompok. Derajat FIC dibagi berdasarkan jumlah batuk yang terjadi, yaitu ringan (1–2 kali), sedang (3–5 kali) dan berat ( >5 kali). Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square dan uji Kolmogorov-Smirnov sebagai uji alternatif. Insiden FIC pada kelompok 20 detik lebih rendah secara bermakna dibandingkan kelompok 5 detik, 8.07% vs 29.03% (p<0.05). Derajat FIC antara kedua kelompok secara statistik tidak berbeda bermakna (p>0.05). Insiden dan derajat FIC lebih rendah pada kelompok 20 detik dibanding dengan kelompok 5 detik pada penggunaan fentanil 2 mcg/kgBB sebagai co-induksi.
Copyrights © 2020