Nyeri secara umum dikenal sebagai tanda vital kelima serta merupakan signal dari menurunnya fungsi fisiologis dari kebanyakan organ tubuh. Nyeri hebat dapat mencetuskan respon stres dan menstimulasi aktivitas adrenergik–simpatis menyebabkan takikardi, hipertensi, meningkatkan konsumsi oksigen dalam otot jantung serta dapat menyebabkan iskemik otot jantung pada pasien-pasien tertentu. Pada pasien dengan kondisi kritis nyeri dapat bermanifestasi sebagai gelisah dan delirium seringkali tidak tertangani dengan baik sehingga dapat menyebabkan sekuele psikis sebagai post-traumatic stress disorder. Manifestasi sistemik dari nyeri adalah systemic inflammatoryresponse syndrome, hiperglikemi, imunosupresi, penyembuhan luka yang sulit, hiperkoagulabilitas, dan peningkatan reaksi katabolisme tubuh. Hal tersebut berujung pada peningkatan lama rawat di ruang perawatan intensif ataurumah sakit serta mortalitas. Pengukuran nyeri pada pasien dengan kondisi kritis jarang sekali menggunakan sistem penilaian yang tervalidasi dan penilaian berdasarkan respon fisiologis (denyut jantung, tekanan darah arteri, polapernafasan) dapat berujung pada kesalahan. Penilaian intensitas nyeri secara rutin dapat meningkatkan kualitas dari penanganan nyeri dan kualitas hidup pasien pada ruang perawatan intensif hingga pasien dipulangkan. Olehkarena itu, penilaian nyeri pada pasien-pasien kritis yang dirawat di ruang perawatan intensif harus berdasarkan kriteria penilaian yang dapat diulang serta terpercaya dalam skala waktu tertentu sehingga dapat dilakukan evaluasi.Skala behavioral pain scale (BPS) dan critical care pain observation tool (CPOT) dapat digunakan untuk menilai nyeri pada pasien dengan kondisi kritis baik sadar maupun tidak sadar yang menggunakan alat bantu pernafasanmekanik akan tetapi dengan perbedaan sensifitas dan spesifisitas. Penggunaan kedua skala nyeri secara bersamaan dapat meningkatkan nilai sensitifitas untuk penilaian nyeri.
Copyrights © 2020