Dokter anestesiologi adalah profesi kedokteran yang rentan mengalami kelelahan akibat jam kerja yang panjang, beban kerja dengan tingkat stress pekerjaan yang tinggi. Sebanyak 80% kesalahan medis berhubungan dengan sindrom burnout dengan gangguan tidur sebagai keluhan yang sering dialami dokter anestesiologi. Penelitian ini menggunakan 2 kuesioner yang telah divalidasi di Indonesia; Kuesioner pittsburgh sleep quality index (PSQI) untuk menilai kualitas tidur dan kuesioner epworth sleepiness scale (ESS) untuk menilai skala kantuk berlebih. Setelah mendapatkan izin komite etik dan informed consent, penelitian observasional potong lintang dengan subjek 98 orang peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI dilakukan di RSCM selama April–Mei 2016. Sampel mengisi kedua kuesioner. Analisis deskriptif dilakukan terhadap gangguan kualitas tidur dan skala kantuk, distribusi karakteristik dan data jam kerja. Analisis bivariat dan multivariat dilakukan terhadap hasil kuesioner PSQI dan ESS. Faktor durasi tidur, keluhan tidur dan skala kantuk berlebih adalah faktor signifikan penyebab kualitas tidur kurang. Skala kantuk memiliki kecenderungan sebesar 132,8 kali sebagai faktor gangguan kualitas tidur. Faktor jumlah hari bebas tugas per bulan, tahap jaga, dan kualitas tidur subjek menjadi faktor signifikan penyebab skala kantuk berlebih. Gangguan kualitas tidur memiliki kecenderungan sebesar 38,73 kali sebagai faktor skala kantuk berlebih.70% subjek memiliki kualitas tidur kurang dan 65% subjek memiliki skala kantuk berlebih. Terdapat hubungan signifikan antara kualitas tidur dengan skala kantuk berlebih.
Copyrights © 2020