Tatalaksana sepsis menurut International Guideline for Management of Surviving Sepsis Campaign (SSC) 2016 yaitu dilakukannya resusitasi cairan kristaloid, paling sedikit 30 mL/kg IV untuk mengatasi hipoperfusi disebabkan oleh sepsis yang diberikan dalam 3 jam pertama. Penambahan cairan dipandu berulang/sering dengan reassesment status hemodinamik (nadi, tekanan darah, saturasi oksigen arteri, frekuensi napas, temperatur, urin output, dan lainnya, dengan alat invasif atau noninvasif sebagaimana yang tersedia, menilai fungsi kardiak, melakukan prediksi fluid responsive, mempertahankan MAP 65 mm Hg dengan vasopressor, normalisasi laktat, Melakukan pengambilan sampel mikrobiologi kultur ,segera memberikan antimikroba IV setelah penegakan diagnosa sepsis dalam 1 jam pertama. Penatalaksanaan sepsis ini akan lebih sulit apabila telah ada gangguan jantung sebelumnya. Monitoring makrosirkulasi dan mikrosirkulasi sebagai parameter perfusi jaringan diperlukan sebagai pedoman pemberian resusitasi cairan . Melaporkan sebuah kasus seorang penderita lak-laki berusia 68 tahun dengan perkiraan tinggi badan 165 cm berat badan 70 kg . Penderita masuk ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo (RSWS) mengeluh nyeri perut disertai sesak napas, terdiagnosis sebagai perforasi gaster. Protokol intraabdominal infeksi dijalankan, komplikasi gangguan ginjal akut dan gagal jantung muncul. Tatalaksana sepsis disertai gagal jantung akut dekompensasi dikerjakan beserta monitoring hemodinamik makrosirkulasi, parameter perfusi jaringan, biomarker sepsis hingga akhirnya pasien dapat sembuh kembali
Copyrights © 2020