Acute respiratory distress syndrome (ARDS) adalah suatu komplikasi yang berat pada sepsis. Sepsis dapat menyebabkan ARDS akibat pemberian cairan yang berlebihan pada fase resusitasi sehingga penanganan ARDS menjadi lebih menantang pada kasus syok septik dalam resusitasi cairan. Laporan kasus ini bertujuan untuk membahas penanganan kasus ARDS yang dipicu oleh sepsis, dengan memfokuskan pada pendekatan manajemen cairan restriktif dan de-resusitasi. Laki-laki, 38 tahun, masuk ke Unit Gawat Darurat (UGD) dengan keluhan nyeri perut kanan memberat sejak 10 hari sebelum perawatan. Pasien didiagnosis dengan syok septik dengan suspek perforasi gaster. Dilakukan operasi laparotomi eksplorasi dan pascaoperasi dirawat di Intensive Care Unit (ICU). Dilakukan ekstubasi pada hari ke-2 namun mengalami desaturasi dan reintubasi pada hari ke-3. Pasien didiagnosis dengan ARDS dan dilakukan continous veno-venous hemofiltration (CVVH) hingga hari perawatan ke-6. Pasien mengalami perbaikan lalu dilakukan ekstubasi dan pindah ke ruang High Care Unit (HCU) pada hari ke-9. ARDS merupakan komplikasi berat dari sepsis dan memiliki mekanisme patofisiologi dasar yang serupa yaitu inflamasi dan disfungsi endotel. Meskipun ARDS memiliki mortalitas yang tinggi namun dengan penatalaksanaan yang cepat dan tepat dapat meningkatkan penyintasan. Penanganan ARDS dimulai dengan ventilasi mekanik dan terapi faktor predisposisi, dengan sepsis sebagai faktor predisposisi yang paling sering menyebabkan ARDS. Balans cairan kumulatif yang positif dapat berbahaya, sehingga strategi manajemen cairan restriktif dan de-resusitasi dengan target balans cairan negatif menggunakan diuretik maupun renal replacement therapy (RRT) pada ARDS, penting dilakukan untuk memperbaiki luaran.
Copyrights © 2020