AbstrakFoto dokumenter adalah penggambaran dunia nyata oleh fotografer. Gambaran tersebut menyampaikan sesuatu yang penting dan memberikan komentar agar dimengerti oleh orang lain. Secara tidak langsung, hal ini dapat dikonsumsi public guna mempertahankan sebuah warisan budaya. Visualisasi dari dunia nyata yang direkam oleh seorang fotografer juga berupaya mengkomunikasikan dan memberikan informasi terhadap suatu peristiwa. Apa yang divisualkan oleh seorang fotografer merupakan bentuk ekspresi dan suatu upaya merespon lingkungannya. Kepekaan seorang fotografer akan menggerakkan ISO, Speed dan Diafragma. Setiap momen adalah peristiwa penting, setiap tekanan shutter adalah wujud kepeduliannya. Dalam Artikel ini, penulis melakukan pemaknaan terhadap tiga karya fotografi documenter 1). Ragam Hias Rumah Gadang, 2). Eksistensi Tebu Lawang, 3). Ibu Yusnidar Pembuat Saka Tabu Bukik Batabuh. AbstractDocumentary photos are real-world depictions by photographers. The picture conveys something important and provides comments so that others can understand it. Indirectly, this can be consumed by the public to maintain cultural heritage. Visualizing the real world recorded by a photographer also seeks to communicate and provide information about an event. What a photographer visualizes is a form of expression and an attempt to respond to his environment. The sensitivity of a photographer will move the ISO, Speed , and Diaphragm. Every moment is an important event, and every shutter press is an expression of concern. In this article, the author interprets the three works of documentary photography 1). Ornamental Variety of Rumah Gadang, 2). The existence of Lawang Sugarcane,Ragam Hias Rumah Gadang, 2). Eksistensi Tebu Lawang, 3). Ibu Yusnidar Pembuat Saka Tabu Bukik Batabuh.
Copyrights © 2021