AbstrakArtikel ini berangkat dari kegelisahan saya atas analisis sebelumnya mengenai kontestasi antara genre musik dangdut dan rock pada era 1970-an. Analisis yang muncul dari fenomena itu adalah kontestasi usai dengan jalan damai antara dua genre. Alih-alih sepakat, saya justru melihat hal yang berbeda, di mana damai tidak benar-benar terjadi, melainkan saling bersiasat melanggengkan dominasi ataupun mengikis kekuasaan. Dari kontestasi dua genre ini, saya kembali mengartikulasikan konflik antara dangdut—yang diwakili oleh Rhoma Irama—dengan rock—mulai dari Benny Soebardja hingga Ahmad Albar. Untuk membongkar hal tersebut saya menggunakan data literatur, analisis tekstual, dan elaborasi kontekstual. Dari temuan yang saya dapatkan, konflik antara dangdut dan rock tidak pernah usai. Mereka terus berkontestasi dengan caranya masing-masing. Bagi saya, trayektori kontestasi ini mengejawantahkan jika konflik tersebut hanya soal berebut kuasa dan dominasi.AbstractThis article departs from my anxiety over the previous analysis of the contestation between dangdut and rock music genres in the 1970s. The analysis that emerges from this phenomenon is that the contestation ended peacefully between the two genres. Instead of agreeing, I actually see a different thing: peace does not happen, but rather mutually tactics to perpetuate domination or erode power. I re-articulated the conflict between dangdut—represented by Rhoma Irama—and rock—from the contestation of these two genres- from Benny Soebardja to Ahmad Albar. To uncover this, I use literature data, textual analysis, and contextual elaboration. From what I found, the conflict between dangdut and rock never ends. They continue to compete in their way. For me, this contestation trajectory shows that the match is only a matter of fighting for power and domination.
Copyrights © 2021