INSANI
Vol 3 No 2 (2016): INSANI

Partai Politik dan Politik Pencitraan Melalui Pemanfaatan Media Massa Pada Pemilihan Presiden 2009

Budi Utami (Unknown)



Article Info

Publish Date
19 Dec 2016

Abstract

Sejak ajang pemilihan presiden secara langsung pada 2004, fenomena politik pencitraan di kalangan politisi Indonesia menguat. Kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam ajang itu dianggap sebagai keberhasilan membangun politik pencitraan. Menyadari kampanye pembentukan citra tidak bisa dilakukan hanya dalam semalam, sejumlah tokoh yang bersiap maju dalam ajang Pilpres 2009, yang dalam penelitian ini disebut capres, melakukan upaya pembentukan citra politik sejak jauh-jauh hari. Mulai dari mengunjungi pusat-pusat kegiatan rakyat di daerah, aktif dalam organisasi sosial ekonomi masyarakat, mendatangi daerah bencana dan memberi bantuan, hingga tampil dalam iklan ‘berbau’ layanan masyarakat atau kepedulian sosial di media massa. Politik pencitraan dilakukan dengan atau tanpa desain sebelumnya. Media massa sebagai salah satu instrumen komunikasi dengan kekuatan melipat gandakan pesan, disadari tak bisa lepas dari politik pencitraan capres. Aspek geografis dan demografis penduduk di Indonesia, membuat media massa mutlak dibutuhkan, agar citra politik capres yang ingin dibentuk, bisa menjangkau sebanyak mungkin calon pemilih, untuk kemudian mempersuasi mereka memilih calon presiden. Penelitian ini sengaja mengkomparasikan politik pencitraan Megawati Soekarnoputri yang didukung parpol besar dengan kekuatan mesin politiknya, dengan politik pencitraan Wiranto yang memasuki kancah perpolitikan nasional menggunakan kendaraan parpol baru dengan kesibukan membangun mesin politik. Pada saat itu mereka adalah kandidat potensial menghadapi SBY. Menggunakan metode kualitatif, penelusuran data dan analisis selama periode penelitian (2008) dilakukan dengan membagi wilayah penelitian ke dalam sejumlah indikator, lalu mencari perbedaan diantara temuan indikator politik pencitraan kedua capres (method of difference). Untuk itu, selain menggunakan berbagai literatur dan mencermati pemberitaan media massa, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan anggota tim sukses capres, termasuk orang di lingkaran dalam Megawati dan Wiranto. Karena politik pencitraan capres terkait pemanfaatan media massa bermuara pada citra politik capres yang direpresentasikan media massa, wawancara juga dilakukan terhadap pakar sekaligus pengamat politik yang memahami fenomena ini. Lalu untuk mengetahui apakah citra capres yang direpresentasikan media massa diapresiasi positif oleh publik, penulis menggunakan sejumlah hasil survei menyangkut presiden pilihan publik.

Copyrights © 2016






Journal Info

Abbrev

insani

Publisher

Subject

Humanities Social Sciences

Description

Jurnal Ilmiah INSANI diterbitkan LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Widuri, Jakarta. Redaksi INSANI menerima artikel secara terbuka dari berbagai kalangan dalam Ilmu Komunikasi dan Ilmu Kesejahteraan Sosial, serta bidang ...