Tulisan ini bertujuan untuk memberikan wawasan pengetahuan kepada pembaca mengenai pandemi Covid19 yang menimbulkan perubahan-perubahan di tengah masyarakat yang berkaitan dengan kebiasaankebiasaan atau cara berkomunikasi. Bisa jadi, pandemi Covid-19 cenderung menimbulkan budaya komunikasi yang baru di masyarakat. Pandemi Covid-19 membuat para karyawan bekerja dari rumah yang kemudian dikenal dengan istilah work from home (WFH). Untuk para pelajar (mulai dari murid sampai dengan mahasiswa) belajar dari rumah atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). WFH, rapat-rapat perkantoran, seminarseminar, dan pembelajaran online atau PJJ dilakukan dengan media daring, misalnya menggunakan Zoom Meeting dan Google Meet. Masyarakat terbiasa menggunakan masker saat melakukan komunikasi tutur dan masyarakat beradaptasi dengan perubahan vokal paralanguage yang terjadi sebagai akibat pemakaian masker. Selain itu, salam perjumpaan atau perkenalan berubah dengan menggunakan namaste yaitu bentuk penghormatan tanpa kontak fisik dan dapat digunakan secara universal saat bertemu dengan orang lain dengan jenis kelamin, usia, maupun status sosial yang berbeda. Namaste diucapkan di hadapan orang lain, biasanya dilakukan dengan sikap hormat merapatkan kedua telapak tangan sehingga telapak tangan dan jari saling bersentuhan, dan diletakkan di depan dada sambal agak menundukkan kepala. Sikap tubuh ini dapat dilakukan tanpa kata-kata namun sudah mengandung arti yang disampaikan salam tersebut. Dalam kehidupan seharihari, penerapan namaste dapat dipadankan dengan "salam sejahtera", dan dapat bermakna "semoga [dalam keadaan] baik". Sepanjang pandemi Covid-19 muncul berbagai kata atau istilah yang memberikan pengetahuan kepada masyarakat melalui penambahan kosa kata seperti komorbid (penyakit penyerta), prokes 3M (protokol kesehatan melalui kedisiplinan memakai masker, menjaga jarak aman, mencuci tangan secara rajin), dan lain-lain. Kata-kata ini memperkaya komunikasi verbal dalam aktualisasi diri masing-masing anggota masyarakat.
Copyrights © 2021