Sungai-sungai yang herhulu dari kawasan vulkanik aktif pada umumnya merupakan sungai yang mengalir pada depositnya sendiri, seperti halnya sungai-sungai yang mengalir dari Gunung Merapi. Deposit ini terbentuk dari suatu fenomena erupsi yang memproduksi sejumlah material sedimen dengan berbagai ukuran dan karakteristika. Sifat atau karakteristika deposit ini akan dinamik seiring dengan interaksinya dengan fenomena hidrologi, utamanya aliran air akibat hujan di daerah tangkapan. Proses perubahan karakteristika deposit dapat berlangsung dalam waktu singkat (dalam rentang waktu harian) ataupun lambat laun (rentang waktu beberapa tahun), tergantung pada pemicunya yaitu aliran air dengan angkutan sedimennya. Fenomena penurunan tanah atau amblesan, termasuk erosi buluh atau piping merupakan salah satu dari banyak kasus akibat perubahan karakteristika deposit. Paper ini menyajikan analisis cepat (rapid assessment) tentang fenomena erosi buluh yang terjadi di K. Kuning, Gunung Merapi, tepatnya di sebelah hulu Bendung Samberembe, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa erosi buluh yang terjadi telah diawali dengan gejala dan fenomena dalam kurun waktu sekitar satu tahun sebelum fenomena terjadi. Proses-proses tersebut juga mengikuti kaedah fenomena kejadian erosi buluh yang dijelaskan oleh peneliti sebelumnya. Analisis lanjut menunjukkan bahwa erosi buluh dapat memicu laju intensitas gerusan lokal di pangkal ataupun pilar jembatan di sekitarnya. Hasil analisis juga memberikan saran atau rekomendasi tentang penanganan erosi buluh, utamanya untuk tujuan mitigasi kerusakan bangunan disekitar lokasi erosi buluh, baik Bendung Samberembe maupun pilar jembatan.
Copyrights © 2022