Dari sudut pandang filsafat Ilmu, penerapan istilah “science” dalam Islamic religious science merupakan hal yang dapat diperdebatkan, bahkan cukup kontroversial. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah “dapatkah diskusi serius dalam filsafat Ilmu (philosophy of Science) diterapkan dalam pembahasan Islamic Religious Science (ilmu-ilmu keislaman)?” Artikel ini mencoba menganalisis konsekuensi-konsekuensi dari dimasukkannya diskusi filsafat ilmu dalam tubuh Islamic religious science, berangkat dari kenyataan tidak adanya pemikir kontemporer muslim yang menganalisis persoalan tersebut. Sebagai langka awal, perdebatan filosofis antara tiga pakar filsafat ilmu yaitu Karl R. Popper, Thomas Kuhn dan Imre Lakatos tentang konsep “science” diangkat, untuk selanjutnya dilihat relevan-sinya bagi Islamic religious science. Lebih spesifik, artikel ini menyoroti hubungan antara Islamic Religious Science dengan research programnya Imre Lakatos, dan menggarisbawahi bahwa rekonstruksi Islamic Religious science adalah dalam wilayah historical Islam. Satu hikmah terpenting yang dapat dipetik dari perdebatan diatas adalah penegasan bahwa semua teori, konsep formula, prinsip-prinsip dalam Islamic science hanyalah merupakan produk manusia, masyarakat dan budaya semata. Lewat kesadaran inilah ilmu-ilmu keislaman tersebut terbuka untuk dipertanyakan ulang, dirumuskan Kembali sesuai dengan tantangan jaman yang mengitarinya. Persoalan yang muncul kemudian adalah adanya hambatan dari para peneliti sendiri yang mencemaskan apakah mereka mengadakan studi keislaman atau sesuatu yang lain. Sosok Islamic Religious science yang baru (setelah dihubungkan dengan philosophy dan sociology of knowlage) harus mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh tiga demensi pendekatan atas agama Islam yaitu: linguistic-historical, theological-philosophical dan Socio-anthropological. Yang lebih penting lagi, hubungan antara tiga pendekatan ini haruslah bersifat sirkular dalam arti bahwa pendekatan multi-dimensi tersebut harus berdialog antara yang satu dan lainnya secara serius sebagai sebuah kesatuaan entitas dengan seluruh implikasi dan konsekuensinya.sebagai kesimpulan, ilmu keislaman yang kritis hanya dapat dikonstruksikan secara sistematis lewat model pendekatan tiga dimensi yang bersifat sirkular dalam mana setiap dimensi dapat berhubungan dan berkomunikasi dengan yang lain. Dengan jalan inilah konteks penemuan (discovery) dalam Islamic religious science dapat berkembang dan konteks justifikasinya dapat ditekan serendah mungkin.
Copyrights © 1998