Longsor lahan merupakan bencana alam geologi yang diakibatkan oleh gejala alami geologi maupun tindakan manusia dalam mengelola lahan atau ruang hidupnya. Analisis kerawanan bencana dapat dilakukan dengan berbagai metode salah satunya adalah metode pemetaan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis spasial. Data yang telah diperoleh berupa Peta Sebaran Curah Hujan, Peta Kemiringan, Peta Tata Guna Lahan dan Peta Jenis Tanah diberi skor sesuai dengan parameter dan kriterianya kemudian dilakukan tumpang susun (overlay). Penentuan daerah rawan longsor menggunakan SIG dengan metode Indeks Storie yaitu perkalian setiap parameter-parameter. Hasil analisis itu nantinya akan menghasilkan nilai kisaran indeks storie. Selanjutnya nilai kisaran ini dikonversi pada beberapa tingkatan rawan longsor. Wilayah Kecamatan Pegentan dipengaruhi oleh 4 Stasiun Hujan terdekat, yaitu Stasiun Hujan Karangkobar, Stasiun Hujan Limbangan, Stasiun Hujan Pejawaran dan Stasiun Hujan Pagentan. Dari ke 4 Stasiun Curah Hujan tersebut diketahui bahwa wilayah yang mempunyai nilai curah hujan paling besar adalah wilayah yang dipengaruhi oleh Stasiun Hujan Pagentan yaitu sebesar 3.703 mm/tahun. Sedangkan curah hujan terkecil adalah wilayah stasiun Curah Hujan Karangkobar sebesar 1.583 mm/tahun. Kemiringan di Kecamatan Pagentan didominasi oleh kemiringan berbukit, curam, sangat curam dan terjal. Sehingga wilayah Kecamatan Pagentan berdasarkan kemiringannya sebagian besar merupakan wilayah yang rawan terhadap terjadinya longsor. Berdasarkan hasil analisa maka didapatkan Peta Kawasan Longsor Kecamatan Pagentan. Kecamatan Pagentan terdapat wilayah yang mempunyai kerawanan sangat rawan, sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus berkaitan dengan mitigasi bencana.
Copyrights © 2018