ABSTRAKPenyediaan bibit sendiri yang dilakukan oleh peternak puyuh disinyalir telah meningkatkan terjadinya inbreeding yang diketahui berdampak negatif. Penyilangan puyuh dengan memasukkan bibit dari luar atau mempunyai hubungan kekerabatan lebih jauh merupakan cara yang dapat menekan inbreeding akibat menurunnya gen-gen homozigot resesif serta menimbulkan dampak heterositas yang menguntungkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh komposisi genetik hasil persilangan puyuh tiga daerah asal yaitu puyuh asal Bengkulu (BB), puyuh asal Padang (PP), dan puyuh asal Yogyakarta (YY) terhadap performans produksi telur puyuh sejak dewasa kelamin sampai masa afkir. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap enam perlakuan dan tujuh ulangan, masing-masing ulangan terdiri empat ekor. Enam perlakuan komposisi genetik yang digunakan adalah : (G1 ) 50%B 25%P 25%Y; (G2) 25%B 50%P 25%Y; (G3 ) 25%B 25%P 50%Y; (G4) 100%B; (G5) 100%P; dan (G6) 100%Y. Variabel yang diukur adalah : umur dewasa kelamin , lama masa produksi, berat telur per butir, jumlah telur , total berat telur, konsumsi ransum, dan konversi ransum. Data yang diperoleh dianalisis keragamannya. Bila perlakuan berpengaruh nyata, dilakukan uji Duncans Multiple Range Test pada taraf 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi genetik berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi ransum, jumlah telur, berat per butir telur, dan berat total telur, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap umur dewasa kelamin dan konversi ransum. Performans produksi telur puyuh persilangan tiga daerah asal lebih baik dibanding puyuh murni. Puyuh dengan komposisi genetik (G1) 50%B 25%P25%Y unggul pada lama masa produksi telur (73 minggu) sehingga menghasilkan jumlah telur lebih banyak (407 butir ekor-1), sedangkan puyuh dengan komposisi genetik (G3) 25%B 25%P 50%Y unggul dalam menghasilkan berat telur per butir (11,49 g butir-1), berat total telur (4531 g ekor-1), dan konversi ransum (2,6).Kata kunci : komposisi genetik, puyuh, produksi telur.
Copyrights © 2011