Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum
Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2022

PERISTIWA DIVERSION LANDING PESAWAT RYANAIR NOMOR PENERBANGAN 4978 BERKEBANGSAAN POLANDIA OLEH BELARUS BERDASARKAN HUKUM UDARA INTERNASIONAL

Muhammad Ridhwan Pohan (Unknown)



Article Info

Publish Date
30 Nov 2022

Abstract

Muhammad Ridhwan Pohan, Adi Kusumaningrum, Dony Aditya Prasetyo Fakultas Hukum Universitas Brawijaya e-mail: ridhwan_pohan@student.ub.ac.id ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji suatu peristiwa yang terjadi di dunia penerbangan sipil melalui perspektif hukum udara internasional. Peristiwa ini merupakan pengalihan pendaratan (diversion landing) pesawat Ryanair dengan nomor penerbangan 4978 berkebangsaan Polandia yang diperintahkan oleh Belarus dengan penerbangan dari Athena (Yunani) menuju Vilnius (Lituania). Pesawat tersebut diinstruksikan oleh air traffic controller untuk mendarat di bandar udara nasional Minsk di Belarus setelah sebelumnya Belarus menyampaikan bahwa terdapat ancaman bom yang terdapat pada penerbangan Ryanair 4978. Setelah pesawat mendarat, diketahui bahwa tidak ditemukannya alat peledak atau bom. Sementara itu, pihak Belarus melakukan penangkapan terhadap Roman Protasevich beserta pasangannya yang merupakan jurnalis dari Nexta, yaitu kanal berita yang aktif mengkritik pemerintah Belarus. Setelah beberapa jam ditahan di bandar udara nasional Minsk, akhirnya pesawat tersebut diizinkan untuk melanjutkan kembali penerbangan ke kota tujuan yaitu Vilnius (Lituania). Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini mengangkat rumusan masalah: 1. Apakah Belarus memiliki Kewenangan untuk mengalihkan pendaratan penerbangan Ryanair dengan nomor penerbangan 4978 dengan menggunakan pesawat militer, dari Athena (Yunani) menuju Vilnius (Lituania) menjadi ke Minsk (Belarus)? 2. Apakah pengalihan pendaratan penerbangan Ryanair dengan nomor penerbangan 4978 yang diperintahkan oleh Belarus dengan tujuan melakukan penangkapan Roman Protasevich merupakan pelanggaran Hukum Udara Internasional? Penelitian ini disusun menggunakan metode penelitian normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan, historis dan konseptual. Hasil penelitian ini memperoleh pemahaman bagi penulis bahwa setiap negara memiliki kewenangan untuk mengalihkan pendaratan dalam hal ini melalui intersepsi sesuai dengan amandemen konvensi Chicago 1944, namun harus menjadi perhatian bahwa intersepsi khususnya yang menggunakan pesawat militer adalah upaya terakhir (last resort). Diketahui juga bahwa penangkapan Roman Prostasevih beserta pasangannya tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan pengalihan pendaratan terhadap pesawat yang sedang ditumpanginya yaitu Ryanair dengan nomor penerbangan 4978 oleh Belarus, dikarenakan tidak dapat dilakukan penangkapan atas penumpang suatu penerbangan jika suatu pelanggaran atau tindak pidana tidak terjadi pada penerbangan tersebut (in flight dan on board) Kata kunci: Hukum Udara Internasional, Diversion Landing, Chicago Convention 1944, Intersepsi, Pesawat Sipil ABSTRACT This research aims to study an event taking place in civil aviation seen from the perspective of international civil aviation law regarding the diversion of Ryanair with flight number 4978 of Poland. This diversion was instructed by Belarus with the route from Athens (Greece) to Vilnius (Lithuania). The aircraft was instructed by Air Traffic Control to land at Minsk national airport in Belarus, while previously Belarus had announced that there was a bomb terror inside Ryanair 4978. Upon landing, there was no bomb found inside the aircraft. Belarusian Authorities, on the other hand, captured Roman Protasevich and his girlfriend, journalists from Nexta, a news channel actively criticizing the Belarusian government. After being held up at Minsk international airport, the plane was allowed to proceed to V

Copyrights © 2022